RIZQI FAJRIANA BLOG’S

Laporan II

Posted on: 20 Oktober, 2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bakteri merupakan organisme mikroskopis yang mempunyai ciri-ciri : tubuh uniseluler, tidak berklorofil, bereproduksi dengan membelah diri, habitatnya dimana-mana (tanah, air, udara, dan makhluk hidup), diameternya 0.1-0.2 um, bakteri aktif bergerak pada kondisi lembab. Beberapa bentuk bakteri yaitu basil, kokus, dan spirilum. Bentuk-bentuk tersebut dapat menunjukkan karakteristik spesies bakteri, tetapi bergantung pada kondisi pertumbuhannya. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan bakteri (Edukasi, 2008)
Kapang merupakan mikroorganisme eukariot multiseluler dengan dinding sel berupa kitin, selulosa, atau keduanya, tidak aktif bergerak. Kapang bereproduksi dan menyebar dengan menggunakan spora. Spora tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora aseksual (forumsain, 2008).
Bakteri dan kapang merupakan kelompok mikroorganisme yang memilik ukuran yang sangat sulit dan tidak berwarna sehingga diperlukan teknik untuk melihatnya, yaitu pewarnaan agar terlihat dengan jelas apakah positif atau negatif. Dengan demikian erlihat struktur fisiologis, morfologisnya. Ntuk itulah dilakukan praktikum ini.
1.2 Perumusan Masalah
Rumusan masalah adalah bagaimana struktur morfologi dari mikroorganisme kapang (jamur), khamir, protozoa, dan algae.
1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui struktur morfologi bakteri dan kapang.
1.4 Manfaat
Manfaat praktikum adalah agar mahasiswa dapat mengetahui manfaat bakteri dan kapang apakah menguntungkan ataukah merugikan serta dapat meningkatkan diversitas olah makanan yang sehat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri merupakan organisme mikroskopis yang mempunyai ciri-ciri : tubuh uniseluler, tidak berklorofil, bereproduksi dengan membelah diri, habitatnya dimana-mana (tanah, air, udara, dan makhluk hidup), diameternya 0.1-0.2 um, bakteri aktif bergerak pada kondisi lembab. Beberapa bentuk bakteri yaitu basil, kokus, dan spirilum. Bentuk-bentuk tersebut dapat menunjukkan karakteristik spesies bakteri, tetapi bergantung pada kondisi pertumbuhannya. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan bakteri (Edukasi, 2008)
Ada 3 macam bentuk bakteri yaitu : batang (basil tunggal, diplobasil, streptobasil, dan palisade), bulat (monokokus, diplokokus, tetrakokus, sarcina, streptokokus, dan stafilkokus), dan sprilal (spiral dan vibrio)
Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu:
1. Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri)
Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula
2. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)
Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora
1. Struktur Dasar Bakteri :
a. Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri     gram negatif bila peptidoglikannya tipis).
b. Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid     dan protein.
c. Sitoplasma adalah cairan sel.
d. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA.
e. Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan.
2. Struktur Tambahan Bakteri :
a. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu, bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan     lendir tersusun atas polisakarida dan air.
b. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari     dinding sel.
c. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel,     pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun     dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus     tetapi lebih pendek daripada pilus.
d. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen     klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang     melakukan fotosintesis.
e. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.
f. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru (mapok, 2008).
Beberapa jenis-jenis bakteri antara lain :
1. Berdasarkan cara memperleh makanan bakteri dibagi menjadi dua yaitu :
a. Bakteri heterotrof: bakteri yang tidak dapat mensintesis makanannya sendiri. Kebutuhan makanan tergantung dari mahluk lain.
b. Bakteri saprofit dan bakteri parasit tergolong bakteri heterotrof.
2. Bakteri autotrofl bakteri yang dapat mensistesis makannya sendiri. Dibedakan menjadi dua yaitu
a. bakteri foto autotrof
b. bakteri kemoautotrof.
3. Berdasarkan kebutuhan oksigen bebas untuk kegiatan respirasi, bakteri dibagi menjadi dua yaitu :
a. Bakteri aerob: memerlukan O2 bebas untuk kegiatan respirasinya
b. Bakteri anaerob : tidak memerlukan O2 bebas untuk kegiatan
respirasinya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah : temperatur, kelembaban, sinar matahari, zat kimia, antibiotik, logam berat dan senyawa-senyawa kimia tertentu dapat menghambat bahkan mematikan bakter (vlsm, 2008).
Beberapa peran bakteri dalam kehidupan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai Mahluk Pengurai/Saprovor.
2. Penghasil Antibiotik.
3. Penghasil Bahan Pangan
Contohnya : – Asam cuka >> dari Acetobacter acetil, Yoghurt >> dari Lactobacillurs, dan Sari kelapa/Nata de Coco >> dari Acetobacter xylinum
4. Pengikat N2 bebas di udara:
Bersimbiosis dengan tanaman Leguminosae (tanaman buah polong)
– Rhizobium leguminosarum dan R. radicicola.
Hidup bebas :
– Azotobacter, Rhodospirillum rubrum, Clostridium pasteurianum.
5. Sebagai Patogen
Bakteri patogen adalah bakteri parasit yang dapat menimbulkan penyakit pada organisme lain.
a. Pada tumbuhan
misalnya: Xanthomonas citri >> penyebab kanker batang jeruk.
Erwinia trachelphilia >> penyebab penyakit busuk daun labu.
b. Pada hewan
misalnya: Bacillus antraxis >> penyebab penyakit anthrax pada hewan ternak.
Actynomyces bovis >> penyebab penyakit bengkak pada rahang sapi.
c. Pada manusia
misalnya: Salmonella thyphosa >> penyebab penyakit tifus
Mycobacterium tuberculosis >> penyebab penyakit TBC
Mycobacterium leprae >> penyebab penyakit lepra
Treponema pallidum >> penyebab penyakit sifilis
Vibrio cholera >> penyebab penyakit kolera
Kapang (mould/filamentous fungi) merupakan mikroorganisme anggota Kingdom Fungi yang membentuk hifa. Kapang bukan merupakan kelompok taksonomi yang resmi, sehingga anggota-anggota dari kapang tersebar ke dalam filum Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota (Hibbett et al. 2007).
Habitat kapang sangat beragam, namun pada umumnya kapang dapat tumbuh pada substrat yang mengandung sumber karbon organik. Kapang yang tumbuh dan mengkolonisasi bagian-bagian di dalam ruangan telah banyak diteliti. Kapang tersebut mudah dijumpai pada bagian-bagian ruangan yang lembab, seperti langit-langit bekas bocor, dinding yang dirembesi air, atau pada perabotan lembab yang jarang terkena sinar matahari. Genus kapang yang sering dijumpai tumbuh di dalam ruangan adalah Cladosporium, Penicillium, Alternaria, dan Aspergillus (Mazur et. al. 2006). Penelitian lain yang dilakukan oleh Brasel et al. (2005) menunjukkan bahwa kapang dari genus Stachybotrys juga ditemukan tumbuh di dalam ruangan.
Kapang merupakan mikroorganisme eukariot multiseluler dengan dinding sel berupa kitin, selulosa, atau keduanya, tidak aktif bergerak. Kapang bereproduksi dan menyebar dengan menggunakan spora. Spora tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora aseksual (forumsain, 2008). Spora aseksual memiliki ukuran yang kecil (diameter 1 – 10 μm) dan ringan, sehingga penyebarannya umumnya secara pasif menggunakan aliran udara. Apabila spora tersebut terhirup oleh manusia dalam jumlah tertentu akan mengakibatkan gangguan kesehatan (Curtis et al. 2004).
Gangguan kesehatan yang diakibatkan spora kapang terutama akan menyerang saluran pernapasan. Asma, alergi rinitis, dan sinusitis merupakan gangguan kesehatan yang paling umum dijumpai sebagai hasil kerja sistem imun tubuh yang menyerang spora yang terhirup (Curtis et al. 2004; Mazur et al. 2006). Penyakit lain adalah infeksi kapang pada saluran pernapasan, atau disebut mikosis. Salah satu penyakit mikosis yang umum adalah Aspergillosis, yaitu tumbuhnya kapang dari genus Aspergillus pada saluran pernapasan (Soubani & Chandrasekar 2002). Selain genus Aspergillus, beberapa spesies dari genus Curvularia dan Penicillium juga dapat menginfeksi saluran pernapasan dan menunjukkan gejala mirip seperti Aspergillosis (Mazur et al. 2006).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pengamatan Struktur Sel Organisme dilaksanakan pada hari Senin dan Rabutanggal 13 dan 15 Oktober 2008 pukul 13.00-16.00 WIB di Laboratorium Mikrobiologi Umum, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang.
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Preparat Mikroba Dalam Medium Cair
Gelas objek dan gelas penutup dibersihkan dengan etanol 70% hingga bebas lemak. Pada gelas kemudian diteteskan air dari: Aqukultur, Bendungan Sutami, Kolom Wonosky, dan air sawah. Kaca penutup diletakkan perlahan-lahan di atas kaca objeknya. Preparat kemudian diamati di bawah mikroskop. Diamati apakah terdapat pergerakan, mikroorganisme yang terdapat pada preparat diamati, difoto, digambar, dan kemudian diidentifikasi.
3.2.2 Preparat Mikroba Dalam Medium Padat
Gelas objek dan gelas penutup dibersihkan dengan alkohol 70% kemudian ditetesi dengan air suling di atas kaca objek. Sedikit biakan dipindahkan ke gelas objek menggunakan jarum ose, lalu diaduk sampai rata. Pada kapang dan yeast, preparat kemudian ditetesi sedikit larutan warna lactophenol cotton blue. Biakan kapang dari slah satu koloni dipindahkan ke atas zat warna pada gelas objek tadi. Hifa kapang diuraikan secara berhati-hati menggunakan 2 jarum enten.Kapang kemudian ditutup dengan gelas penutup secara hati-hati. Kelebihan lactophenol dibersihkan menggunakan kertas hisap, kemudian diamati di bawah mikriskop, difoto, dan digambar.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisa Prosedur
Langkah pertama sebelum melaksanakan praktikum ini adalah melakukan sterilisasi pada meja dan kedua tangan agar terhindar dari mikroorganisme yang tidak diperlukan. Langkah kedua yaitu membersihkan gelas objek dan kaca penutup dengan alkohol 70% agar terbebas dari lemak dan kiroorganisme yang tidak digunakan. Selanjutnya beri setetes methylen blue pada glass objek untuk memberi warna pada bakteri sehingga strukturnya dapat diamati dibawah dengan jelas, ditutup dengan kaca penutupbertujuan agar tidak terjadi kontak dengan lingkungan luar sehingga tidak terkontaminasi dengan debu dan mikroorganisme yang tidak diinginkan. Pada praktikum ini menggunakan Fusarium oxysporu, Rhyzopus sp. Penicillium sp. Saccharomyces cerevisiae, dan Aspergillus niger, karena jamur dan kapang tersebut sering digunakan oleh mnusia untuk memproduksi makanan dan obat perlu mengetahui strukturnya.
4.2 Analisis Hasil
Pewarnaan bakteri dilakukan pada isolat staphylococcus aereus adalah gram positif yang berbentuk kokus atau lingkaran sterik dengan diameter sel mencapai 1µm, koloninya berbentuk seperti buah anggur (Textbook, 2008). Pada bacillus subtilis, koloninya bergerombol sedikit erpisah-pisah bahkan membentuk rantai panjang (hasil pengamatan). Pada Eschericia coli, koloninya tersusun rantai memanjang. Pada bakteri ini tidak ditemukan endospora, pada saat diwarnai menunujukkan warna merah.
1. Fusarium oxysporum

a. b.
Gb. 1a. Pengamatan Fusarium oxysporum
1b. Gambar Tangan
Berdasarkan gambar hasil pengamatan diketahui bahwa struktur Fusarium oxysporum terdiri dari mikronidia dan makronidia. Permukaan koloninya berwarna ungu, tepinya bergerigi, permukaannya kasar berserabut dan bergelombang.
Fusarium oxysporum adalah fungi aseksual yang menghasilkan tiga spora yaitu mikronidia, makronidia, dan klamidospora. Mikronidia adalah spora dengan satu atau dua sel yang dihasilkan Fusarium pada semua kondisi dan dapat menginfeksi tanaman. Makronidia adalah fungi dengan tiga sampai lima sel biasanya ditemukan pada permukaan. Klamidospora adalah spora dengan sel selain diatas, dan pada waktu dorman dapat menginfeksi tanaman, sporanya dapat tumbuh di air (sciweb, 2008).
2. Aspergilus niger

a. b.
Gb. 2a. Pengamatan Aspergilus niger
2b. Gambar Tangan
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa struktur Aspergillus niger terdiri dari vesikel, konidiofor, konidia, dan sterigma. Koloninya berwarna coklat kehitaman, permukaannya bergelombang dan berserabut.
Aspergillus niger  merupakan salah satu spesies yang paling umum dan mudah diidentifikasi dari genus Aspergillus, famili Moniliaceae, ordo Monoliales dan kelas Fungi imperfecti. Aspergillus niger dapat tumbuh dengan cepat, diantaranya digunakan secara komersial dalam produksi asam sitrat, asam glukonat dan pembuatan berapa enzim seperti amilase, pektinase, amiloglukosidase dan sellulase.  Aspergillus niger dapat tumbuh pada suhu 35ºC-37ºC (optimum), 6ºC-8ºC (minimum), 45ºC-47ºC (maksimum) dan  memerlukan oksigen yang cukup (aerobik). Aspergillus niger memiliki  bulu dasar berwarna putih atau kuning dengan lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap sampai  hitam. Kepala konidia berwarna hitam, bulat, cenderung memisah menjadi bagian-bagian yang lebih longgar dengan bertambahnya umur. Konidiospora memiliki dinding yang halus, hialin tetapi juga berwarna coklat (wordpress, 2008).
Aspergillus niger dapat menyebabkan penyakit yang disebut black mold pada buah dan sayur seperti anggur, bawang merah, kacang, dan makanan yang terkontaminasi. Jamur ini terdapat dimana-mana, di tanah dan dilingkungan terbuka dimana koloni hitamnya dapat dikacaukan dengan Stachybotrys. Beberapa strain Aspergillus niger disebutkan menghasilkan mycotoxin namun ada juga yang membantahnya. Aspergillus niger dalam jumlah sedikit tidak menimbulkan penyakit pada manusia, namun jika dalam jumlah banyak dapat menyebabkan gangguan pernafasan, paru-paru (emlab, 2008).
3. Rhizopus sp.

a. b.
Gb. 3a. Gambar Literatur Rhizopus sp.(Simons, 2008)
3b. Gambar Tangan
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa struktur Rhizopus sp terdiri dari sporangium, sporangiofor, kolumela, rhizoid, dan hifa. Koloninya berwarna putih keruh, permukaanya berserabut dan terdapat bintik-bintik hitam kecil.
Karakteristik dari genus Rhizopus adalah adanya stolon dan rhizoid yang berpigmen, bentuk dari sporangiofor adalah single atau berkelompok dari bongkol langsung di bawah rhizoid dan apophysate, columella, multi-spora, biasanya sporanginya bundar. Setelah spora mengeluarkan apophyses dan kolumella sering runtuh menjadi bentuk seperti payung. Sporangiospor berbentuk bulat sampai seperti telur. Koloninya cepat tumbuh pada media agar pertama-tama warnanya putih, kemudian abu-abu atau kuning kecoklatan dengan sporulasi. Jamur ini digunakan untuk fermentasi makanan dan alkohol (mycology, 2008).
4. Saccharomyches ceriviseae

a. b.

Gb. 4a. Pengamatan Saccharomyches ceriviseae
4b. Gambar Tangan
Berdasarkan hasil pengamatan struktur Saccharomyces cerevisiae terdiri dari sel anak, budding dan sel induk, serta berwarna putih keruh dan bagian tengah yang berwarna kehitaman. Tepi berbentuk entire, dan permukaan halus. Koloninya berwarna putih keruh, permukaaan dan tepinya rata.
Saccharomyces cerevisiae mikroorganisme eukaryotic dengan diameter 5-10 µm, reprduksinya melalui proses difusi yang dikenal sebagai budding. Saccharomyces cerevisiae dapat survive dan tumbuh dalam bentuk haploid dan diploid. Sel haploid adalah simple siklus hidup dalam fase mitosis dan pertumbuhan, dan jika berada dalam kondisi lingkungan yang stress akan mati. Sel diploid adalah simple siklus hidup dalam fase mitosis dan pertumbuhan, tetapi jika berada dalam kondisi lingkungan yang stress mengalami sporulasi, memasuki meiosis dan menghasilkan sebuah varietas dari spora haploid yang dapat melaukan konjugasi, kembali ke bentuk diploid (Narita, 2008)
Saccharomyces cerevisiae berperan dalam pross fermentasi. Seiring berkembangnya bioteknologi, S. cerevisiae juga digunakan untuk menciptakan revolusi terbaru manusia di bidang rekayasa genetika sehingga dijuluki sebagai superjamur. Selain itu, spesies ini digunakan dalam memproduksi berbagai makanan, minuman, biofuel, kimia, industri enzim, pharmaceutical, agrikultur, dan lingkungan (Narita, 2008).
5. Penicillium sp.

a. b.
Gb. 5a. Pengamatan Penicillium sp.
5b. Gambar Tangan
Berdasarkan gambar hasil pengamatan diketahui bahwa struktur Penicillium sp. terdiri dari konidiospora, sterigma, dan konidiofor, koloninya berwarna hijau keabu-abuan dan tepinya berserabut.
Penicillium sp. tersebar luas di lingkungan dan dapat menyebabkab makanan busuk. Beberapa spesies ini dapat digunakan untuk menghasilkan keju, asam, dan antibiotic. Sporanya dapat menyebabkan gangguan pernafasan, dimulai dari infeksi pulmonary dan menyerang pembuluh darah, dan menyerang ketahan tubuh. Spesies Penicillium menyebabkan keratitis (inflammasi pada kornea), keratomycosis, penicilliosis, ostomycosis, onychomycosis (infeksi pada kuku) (pollenplus, 2008).
6. Endospora
Berikut ini merupakan hasil uji pewarnaan endospora sehingga dapat diamati dan digambar bentuk dan struktur dari endospra dari masing-masing sel penghasil endospora :

a.
Gb. 6a. Gambar Endospora (encyclopedi, 2008)
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pewarnaan endospora diketahui bahwa endospora berwarna merah, dindingnya tebal dan dinding yang tebal ini digunakan untuk melindunginya dari kondisi kekeringan, cahaya, dan suhu yang tidak menguntungkan. Endospora tumbuh pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, dan jika kondisi sudah stabi akan membentuk sel vegetatif.
Endospora merupakan fase istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru (edukasi, 2008)
Letak endospora yang berbeda diantara spesies bakteri dapat digunakan untuk identifikasi. Tipe utama diantara terminal, subterminal dan sentral. Tipe sentral atau tengah merupakan lokasi dari sel vegetatif yang letaknya tepat di tengah. Tipe terminal memiliki penngertian letak el vegetatif diantara ujung dan pinggir dari sel vegetatif. Tipe subterminal berarti lokasi endosporanya diantara tengah dan pinggir dari sel vegetatif. Endospora dapat berukuran lebih besar ataupunkecil dari sel vegetatif yang terdiri dari lapisan protein yang terbuat dari keratin. Spora ini memiliki resistensi yang tinggi terhadap pewarnaan, prosedur pewarnaan dengan malakit hijau adalah dengan pemanasan. Endospora merupakan metode pertahanan hidup yang bukan bertujuan untuk reproduksi. Contohnya Bacillus subtilis memiliki endospora yang terletk di subterminal (Ncbi, 2008). Endospora berperan penting bagi kesehatan manusia dan dalam industri pangan. Hal ini disebabkan ketahanannya terhadap proses yang secara normal akan membunuh sel bakteri vegetatif, seperti proses pemanasan, pembekuan, pengeringan, penggunaan bahan kimia (disinfektan) dan radiasi. Kebanyakan sel vegetatif akan mati dengan temperatur di atas 70° Celsius, sedangkan endospora dapat bertahan hidup dalam air mendidih untuk beberapa jam atau lebih (Naim, 2008).
Lapisan paling luar dari spora yaitu eksosporium, bervariasi dalam ukuran di antara spesies bakteri pembentuk spora. Di bawah eksosporium terdapat coat. Kompleksitas dari struktur coat juga bervariasi di antara spesies. Coat akan melindungi korteks spora (spore cortex) dari kerusakan yang disebabkan oleh enzim-enzim yang bersifat melisis. Coat juga kemungkinan berfungsi sebagai pertahanan awal terhadap bahan-bahan kimia seperti agen oksidasi. Di bawah coat adalah outer forespore membrane. Membran ini merupakan membran fungsional dalam perkembangan forespore dan mungkin juga dalam perkembangan spora. Membran ini kemungkinan memiliki peran besar pada sifat impermeabilitas ekstrem dari spora terhadap molekul-molekul kecil. Komposisi protein dari membran ini berbeda dari komposisi protein pada inner forespore membrane. Di bawah outer forespore membrane merupakan korteks spora. Korteks mengandung lapisan peptidoglikan yang tebal yang strukturnya mirip dengan peptidoglikan dinding sel vegetatif, tetapi memiliki beberapa perbedaan. Peptidoglikan korteks selalu mengandung diaminopimelic acid, sedangkan peptidoglikan dinding sel vegetatif mengandung lisin. Korteks spora merupakan struktur yang bertanggung jawab terhadap dehidrasi dari spore core dan resistensi spora. Di antara korteks dan inner forespore membrane terdapat germ cell wall. Strukturnya mungkin identik dengan yang terdapat pada sel vegetatif. Struktur selanjutnya adalah inner forespore membrane, merupakan barrier permeabilitas yang sangat kuat terhadap molekul hidrofilik dan molekul dengan berat molekul $> 150 (Naim, 2008).
Bagian sentral dari spora yang disebut dengan core mengandung materi genetik DNA, ribosom, enzim, dipicolinic acid, dan kation divalen seperti kalsium. Kandungan air pada core sangat rendah, bila pada sel vegetatif kandungan airnya 4 gram per gram berat kering, maka pada core hanya 0.4 sampai 1 gram per gram berat kering. Kandungan air yang rendah ini diduga memiliki peran utama bagi spora untuk bertahan hidup dalam keadaan dormant dan juga untuk resistensi spora terhadap sejumlah agen (Naim, 2008).

BAB V
PENUTUP
5. 1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum morfologi dari bakteri dan kapang adalah sebagaio berikut : Saccharomyces cerevisiae terdiri dari sel anak, budding dan sel induk. Koloninya berwarna putih keruh, permukaaan dan tepinya rata, struktur Aspergillus niger terdiri dari vesikel, konidiofor, konidia, dan sterigma. Koloninya berwarna coklat kehitaman, permukaannya bergelombang dan berserabut. Penicillium sp. terdiri dari konidiospora, sterigma, dan konidiofor, koloninya berwarna hijau keabu-abuan dan tepinya berserabut, struktur Rhizopus sp. terdiri dari sporangium, sporangiofor, kolumela, rhizoid, dan hifa serta Fusarium oxysporum terdiri dari mikronidia dan makronidia.
5.2 Saran
Diharapkan praktikan teliti dan hati-hati dalam mengambil spesimen sebab dikhawatirkan medium agarnya terambil sehingga preparat bakteri dan kapangnya tidak terlihat.

DAFTAR PUSTAKA
Brassel, T.L., J.M. Martin, C.G. Carriker, S.C. Wilson & D.C. Straus. 2005. Detection of airborne Stachybotrys chartarum macrocyclic trichothecene mycotoxins in indoor environment. Applied and Enviromental Microbiology, 71(11): 7376 – 7388.
Curtis, L., A. Lieberman, M. Stark, W. Rea & M. Vetter. 2004. Adverse healt effect of sindoor molds. Journal of Nutritional & Environment, 14(3): 261 – 274.
Edukasi. 2008. Bakteri.http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Emlab. 2008. Aspergillus niger. http://www.emlab.com/s/sampling/env-report-09-2006.html. Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Encyclopedia. 2008. Endospora. http://www.1911encyclopedia.org. Tanggal akses 19 Oktober 2008.
Forumsains. 2008. Kapang. http://www.forumsains.com/artikel/kapang-dan-kesehatan/?wap2. Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Hibbet, D.S., et al. 2007. A higher-level phylogenetic classification of the Fungi. Mycological Research, 111: 509 – 547
Mapok. 2008. Bakteri. http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php. Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Mazur, L.J., J. Kim & the Commitee on Environmental Health. 2006. Spectrum of noninfectious healt effects from molds. Pediatrics, 118: 1909 – 1926
Micology. 2008. Rhyzopus sp. http://www.mycology.adelaide.edu.au/ Rhizopus/. Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Naim, R. 2008. Endospora: Aspek Kesehatan, Industri Pangan. http://www2.kompas.com/kompas-cetak.html. Tanggal akses 17 Oktober 2008. s
Narita, V. 2008. Saccharomyces cerevisiae Superjamur yang Memiliki Sejarah Luar Biasa. http://www2.kompas.com/kompas-cetak.html. Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Pllenplus. 2008. Penicillium sp. http://www.pollenplus.com/spores/db/penicillium.html Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Science. 2008. Saccharomyces cerevisiae.http://www.science.lsus.edu. Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Sciweb. 2008. Fusarium oxysporum. http://sciweb.nybg.org/science2/hcol/fusarium3.asp. Tanggal akses 19 Oktober 2008.
Simmons. 2008. Rhizopus sp. http://io.uwinnipeg.ca/~simmons. Tanggal akses 19 Oktober 2008.
Vlsm. 2008. Ciri-Ciri Umum Bakteri. http://free. vlsm.org/sponsor/SponsorPendamping html. Tanggal akses 17 Oktober 2008.
Wordpress. 2008. Aspergillus niger http://permimalang.wordpress.com/aspergillus-niger/. Tanggal akses 17 Oktober 2008.

About these ads

1 Response to "Laporan II"

Thanx Ngebantu banget ^_^

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUATLAH DIRIMU BERMANFAAT

KALENDER

Oktober 2008
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

PENGUNJUNG

  • 75,039 TAMU

KUMPULAN TULISAN

free-dw CARI UANG DI INTERNET website stats ON LINE

Flickr Photos

Seeing the Light in Dual Perception -- Push F11 & L to View Large Folks

Senja

Jokulsarlon

More Photos
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: