<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RIZQI FAJRIANA BLOG'S &#187; CERPEN</title>
	<atom:link href="http://qi206.wordpress.com/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qi206.wordpress.com</link>
	<description>Hidupmu akan indah bila kau awali dengan Basmallah.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2009 08:48:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='qi206.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a61e36cd26ece28c2f4df74763960326?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RIZQI FAJRIANA BLOG'S &#187; CERPEN</title>
		<link>http://qi206.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://qi206.wordpress.com/osd.xml" title="RIZQI FAJRIANA BLOG&#8217;S" />
		<item>
		<title>Detik-detik Jilbab Pertamaku</title>
		<link>http://qi206.wordpress.com/2008/09/25/detik-detik-jilbab-pertamaku/</link>
		<comments>http://qi206.wordpress.com/2008/09/25/detik-detik-jilbab-pertamaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 10:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qiqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qi206.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[ 
“Al, waktunya kamu harus pake’ jilbab!” ultimatum ummi di meja makan.
Aku yang menyuap sesendok nasi terperanjat kaget. Sesendok nasi yang mampir di mulut tak jadi kutelan. Aku menelan ludah. Binggung. Segera tanganku meraih segelas air putih yang ada di samping tangan kananku, meneguknya dengan cepat. Guyuran segarnya membuat pikiranku terasa enteng.
“Jangan sekarang ummi dan abi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qi206.wordpress.com&blog=1716043&post=123&subd=qi206&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> </p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Al, waktunya kamu harus <em>pake’</em> jilbab!” ultimatum ummi di meja makan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku yang menyuap sesendok nasi terperanjat kaget. Sesendok nasi yang mampir di mulut tak jadi kutelan. Aku menelan ludah. Binggung. Segera tanganku meraih segelas air putih yang ada di samping tangan kananku, meneguknya dengan cepat. Guyuran segarnya membuat pikiranku terasa enteng.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Jangan sekarang ummi dan abi, Alya belum siap!” bisikku dalam hati.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ya Al, contohlah sahabat kau yang sering main kesini itu,” Abi angkat bicara dengan aksen batak yang kental.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Fatimah? Sahabatku yang cantik, pintar, lembut dan yang paling anggun itu. Haaa, <em>gak</em> salah abi ngomong? Masak aku disamakan dengan Fatimah. Ugh&#8230;kesel, hatiku tak henti-hentinya berbisik.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Lho Al, nasinya <em>kok</em> belum juga dimakan? Jangan dilihat saja, nanti dingin! Jadinya <em>gak</em> enak.” kata ummi yang melihatku benggong.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku tersenyum.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Kapan anak ummi yang manis ini memakai jilbab?” tanya ummi lagi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Pertanyaan yang sama. Haruskah aku memberikan jawaban yang sama seperti setahun yang lalu, “Nanti aja, ummi ama abi, Alya <em>make’</em> jilbabnya pas ramadhan aja. Sekarang belum siap. Bulan ramadhan ‘kan, moment yang paling tepat untuk memperbanyak pahala!” Kata-kata itu terngiang di batok kepalaku, membuatku semakin tersudut untuk menunaikan janji. Haruskah aku mengingkarinya lagi?</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Al?” sapa abi yang melihatku melamun.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Entahlah, dimanakah seorang Alya sekarang? Di sudut bumi ataukah istana khayalnya sendiri. Aku kembali terbang. Jauh. Menjauhi dimensi nyata. Oh ummi dan abi, jangan paksa putrimu ini, pintaku dalam hati.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Al?” sapa abi lagi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku <em>ogah </em>membalas. Tak biasanya Alya yang periang termenung dan malas untuk berbicara. “Oh Alya&#8230;kembalilah ke alammu!” lamunku lagi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">****************************************************</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Alyaaa, alyaaa&#8230;.!” teriak ummi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">. “Ya mi, bentar. Alya masih nyisir rambut,” sahutku kemudian.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kusisir rambut pendekku dengan cepat. Aku paling suka dengan rambut pendekku. Hitam dan halus. Segera aku menuju ke empunya suara yang memangilku. Kamar ummi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kamar ummi terbuka lebar, aku langsung masuk. Banyak jilbab berserakan di atas tempat tidur ummi. Berwarna-warni dan coraknya beraneka. Begitupun model jilbabnya. Ada warna putih polos dan bercorak bunga-bunga, ada jilbab terbaru model innova, ada juga jilbab kain sutra yang halus dan lebar serta masih banyak jilbab lainnya yang tak aku tahu. Semuanya tumpah ruah.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ada apa, mi?” tanyaku pura-pura.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Nih lihat, jilbabnya bagus dan cantik-cantik kan?” kata ummi sembari menggelar jilbab persegi warna hitam bercorak.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku melongo.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Pasti wanita yang memakai jilbab ini akan terlihat semakin cantik,” seru ummi.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Berpura-pura tak mengerti, “Oh ya, mi. Bagus sekali ya jilbabnya. Cocok buat ummi.” Balasku bersemangat.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Kok ummi, ya Alyalah yang memakai jilbab cantik ini.” jawab ummi lembut seraya menggulurkan jilbab itu ke kepalaku, melipat di kanan dan kiri lalu menyusupkan peniti berwarna emas di dekat leher.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku membisu. Rasanya dinding-dinding di kamar ini menuju ke arahku, membuatku tersudut dalam ruang yang tak aku mengerti. Sempit dan sesak. “Aku ingin pergiiiiii,” jeritku dalam hati.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Wah, Alya cantik sekali dengan jilbab ini. Cocok.” Kata ummi memuji.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku tersenyum simpul. Cantik? Apanya? Yang ada menjijikkan dengan jilbab di kepala. Apa kata dunia tentang Alya nanti, si Tomboy bermetamorfosis menjadi wanita. Huaaaaa, kembali batinku berbisik.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ada yang kurang, sebentar ummi ambilkan,” tambah ummi lagi kemudian pergi meninggalkanku dengan jilbab yang sudah tertata <em>apik</em> di kepala.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ini dia,” seru ummi membuatku takut.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kulihat ummi menimang-nimang benda mungil berbentuk bunga dengan warna perak yang menyilaukan mata. Apa itu? Jantungku dag-dig-dug tak karuan. Entah apa yang merasuki ummiku sehingga beliau tak mengerti anaknya ini. Hiks..hiks&#8230;adakah yang bisa menolongku?</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Sebentar ummi taruh bros mungil ini di sebelah kiri,” kata ummi sambil menjepitkan benda yang ditimangnya tadi di sebelah kiri di bawah telingaku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Selesai.” Seru ummi sambil melihatku dengan bangga.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Sekarang Alya lihat di cermin!” pinta ummi seraya menunujuk meja rias yang duduk manis di pojok kamar.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku melangkah dengan takut. Kututup kedua mataku sebelum kulihat wajahku sendiri. Jantungku tak hentinya terpompa dengan cepat, adrenalinku tak hentinya berdenyut, dan alam pikirku tak hentinya memintaku berkelana.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ayo lihat!” pinta ummi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kudesiskan basmalah sebelum kubuka kedua mataku. Kulihat sesosok tubuh asing yang aku kenali wajah dan postur tubuhnya. Itu aku, Alya. Tapi ada yang berbeda, jilbab yang melekat rapi dan <em>apik </em>di kepala, bros bunga perak yang terhias indah. Aku malu.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Sekarang, coba Alya tersenyum!” aba-aba ummi seperti seorang guru tk yang meminta anak didiknya untuk mengikutinya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku menarik bibir ke kanan dan ke kiri dengan malas. Hanya sekedar menyenanggkan ummi yang bersusah payah memakaikan jilbab ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Cantiknya anak ummi.” Puji ummi lagi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Dan aku lagi-lagi hanya tersenyum simpul.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="center">*************************************************</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID">“Ayo Alya, cepat!” komando abi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID">“Tunggu, bi. Alya masih <em>make</em>’ jilbab” balasku cepat.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku merapikan jilbab warna kuning muda yang senada dengan baju atasan yang aku kenakan. Aku mematut diri di depan cermin. Tampak wajah yang aneh terhias disana.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID">“Alyaaa&#8230;.” panggil ummi.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID">“Ya, mi.” Balasku cepat.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku mengambil mukenah lengkap dengan sajadah yang terlipat rapi di atas kasur. Tarawih pertama dengan jilbab. Hari yang spesial sekaligus menakutkan yang akan terlampir dalam agenda harian hidupku. Bukan hanya untuk hari ini tapi untuk selamanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Lama sekalilah kau, Alya berdandannya? Abi dan ummi menunggumu disini hingga capek.” Kata abi bernada setengah jengkel.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Maaf ummi dan abi, Alya baru saja bisa memakai jilbab. Jadinya lama berdandan.” Kilahku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ya sudahlah. Sekarang kita berangkat ke mesjid. Nanti kita terlambat.”</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Iqomat dilantunkan, jamaah pun berbaris memenuhi shof-shof. Seorang imam menyuarkan takbir dengan lantang, “Allahu Akbar.” Seraya meletakkan tangan kanan dan kiri yang terlipat di dada. Makmum mengikuti dengan segera. Lafadzh Al-Quran sebagai bacaan sholat disuarkan dengan merdunya. Semua khusyuk, larut dalam penghambaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Segala gerak-gerik imam kuikuti. Empat rakaat sudah tertunaikan ditutup dengan salam dan menoleh ke kanan dan kiri. Sholat isya telah selesai. Aku melihat sekeliling jamaah. Ada ibu-ibu, anak-anak kecil yang berlari-lari kecil, dan remaja-remaja muda yang beaneka, sibuk berkomat-kamit, ada juga yang saling berbincang maupun yang memangang ponselnya. Di sebelahku ada ummi sedang sibuk berdzikir, lalu berdoa seraya mengangkat kedua tangan. Dan berlanjut sholat badiyah. Aku hanya termenung dengan alamku sendiri, memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah memakai jilbab ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Alya, kok tidak berdoa?” tanya ummi lembut.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Bentar mi, Alya pusing.” Jawabku pendek.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Alya cantik dan cocok <em>make’</em> jilbab.” Kata ummi seolah mengerti tentang diriku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Oh ummi, kau memang ummi yang paling baik sedunia dan mengerti akan putrinya, bisikku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Seorang pria muda berpeci hitam membacakan pengumuman dan tata tertib sholat tarawih. Pengumuman tersebut berisi jumlah infak yang ada di masjid ini, larangan ramai tatkala sholat dan ceramah, serta wajib menjaga anak-anak kecil yang dibawa agar tidak mengganggu kekhusyukan sholat. yang wajib didengar dan ditaati jamah. Kemudian membacakan nama-nama ustadzh yang akan berceramah dan menjadi imam tarawih.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Ustadzh Abdullah Abdur Rahman, lulusan Al-Azhar University yang terkenal dengan keluasan ilmu dan tafsirnya. Ustadzh favorit ummi dan abi.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Seorang bapak paruh baya tinggi besar dengan surban di kepala berjalan mendekati mimbar, mengucapkan salam dan memberikan wejangan-wejangan kepada para jamaah mengenai hikmah bulan puasa dan apa saja amalan yang dapat memperbanyak pahala di bulan yang suci ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku melihat ummiku yang sangat antusias dengan pesan yang disampaikan ustadzh tersebut. Begitu pula di sekelilingku yang khusyuk mendengarkan terkecuali aku yang masih saja tenggelam dalam mimpiku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">*************************************************</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku menatap langit yang terbentang di angkasa, kulihat gumpalan putih yang menghiasi warna birunya. Aku pun berbisik dalam hati, “Ayo Alya, kamu pasti bisa!” segera kulangkahkan kakiku menuju gerbang sekolahku yang bercat hitam-putih. Terpampang dengan jelas sebuah tulisan disana, “SLTP NEGERI 1 Bangil”, tempatku menimba ilmu. Kuangkat wajahku lalu tersenyum, “Aku pasti bisa.”</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku melangkahkan kaki menuju kelas. Seragam biru-putih panjang melekat di tubuhku. Bismillah, desisku renyah. Kulihat sekerumunan siswa-siswi yang beada di bangkuku. Aku berjalan pelan menuju kesana. Tampaknya teman-teman tak mengenalku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Permisi-permisi, mbak Alya mau lewat!” seruku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Spontan Fatimah, sahabat karibku yang berkaca mata minus itu berteriak, “Alyaaaa&#8230;.” katanya menggagetkanku.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ada murid baru, oi!” teriak Ipung.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Ajak kenalan donk!” tambahnya lagi.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">“Mbak, namanya siapa? Nama saya Ipung”</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Spontan koor teman-temanku sekelas, “Huuuuuu&#8230;&#8230;”</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Aku beringsut, duduk manis di pojok dekat tembok. Mencoba menyepi dalam keramaian. Tapi tetap saja tidak bisa. Bel berbunyi tanda masuk kelas. Aku mengampil napas panjang, “Fuiiiiugh&#8230;..” Menenangkan diriku.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Teman-teman mengambil tempat duduk di kursinya masing-masing. Bu Herwin, guru matematika memasuki kelas. Dan kelaspun dimulai. Kulihat Fatimah, menyobek secarik kertas kemudian menuliskan sesuatu.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Fatimah melipat kertas itu dan menggeserkan perlahan ke arahku. Beberapa detik kemudian kertas itu sudah beralih tangan. Aku membuka lipatannya sejurus kemudian kubaca isinya, <em>“Alhamdulillah, ya. Kamu udah pake’ jilbab. I’m proud U, my be loved friend.”</em> Aku tersenyum haru. Aku menoleh ke kanan sembari tersenyum ke arahnya. Fatimahpun membalas senyumanku. Dan senyuman inilah yang akan menemani langkah-langkahku dengan jilbab di kepalaku. Amin.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"><span style="font-family:Monotype Corsiva, cursive;"><em>Malang, 20 september 2008</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"><span style="font-family:Monotype Corsiva, cursive;"><em>Tulisan ini aku persembahkan untuk mengenang sahabatku di SLTPN Negeri 1 Bangil yang telah tiada. U are the best my friend, U are always in my heart.</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"><span style="font-family:Monotype Corsiva, cursive;"><em>Thanks for you support.</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.5in;line-height:150%;" lang="id-ID" align="right"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qi206.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qi206.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qi206.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qi206.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qi206.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qi206.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qi206.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qi206.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qi206.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qi206.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qi206.wordpress.com&blog=1716043&post=123&subd=qi206&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qi206.wordpress.com/2008/09/25/detik-detik-jilbab-pertamaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/14300a0bde586d862b44251715153ee9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Qiqi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>dari shbat untuk shbat</title>
		<link>http://qi206.wordpress.com/2008/09/02/dari-shbat-untuk-shbat/</link>
		<comments>http://qi206.wordpress.com/2008/09/02/dari-shbat-untuk-shbat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 08:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qiqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qi206.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[suatu hari cinta dan kawan berjalan di desa. tiba2 cinta terjatuh dalam telaga. kenapa? krn cinta itu buta. lalu kawanpun ikut terjun. knapa? krna kawan akn berbuat apa saja demi cinta. didalam telaga cinta hilang. knpa? krn cinta itu halus, mudah hilang klo tak dijaga, sulit dicari palagi dlm telaga yang gelap. sdangkan kwan msih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qi206.wordpress.com&blog=1716043&post=115&subd=qi206&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>suatu hari cinta dan kawan berjalan di desa. tiba2 cinta terjatuh dalam telaga. kenapa? krn cinta itu buta. lalu kawanpun ikut terjun. knapa? krna kawan akn berbuat apa saja demi cinta. didalam telaga cinta hilang. knpa? krn cinta itu halus, mudah hilang klo tak dijaga, sulit dicari palagi dlm telaga yang gelap. sdangkan kwan msih mencari2 dimana cinta dan terus menunggu, knpa? krn kwan itu sejati dan akan kekal sbgai kwan yang setia. so, hargailah kawan kita selagi dia masih ada.<br />
Bangil, 31 Agustus 2008</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qi206.wordpress.com/115/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qi206.wordpress.com/115/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qi206.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qi206.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qi206.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qi206.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qi206.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qi206.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qi206.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qi206.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qi206.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qi206.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qi206.wordpress.com&blog=1716043&post=115&subd=qi206&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qi206.wordpress.com/2008/09/02/dari-shbat-untuk-shbat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/14300a0bde586d862b44251715153ee9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Qiqi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merdekalah Para Akwat!!!</title>
		<link>http://qi206.wordpress.com/2008/01/03/merdekalah-para-akwat/</link>
		<comments>http://qi206.wordpress.com/2008/01/03/merdekalah-para-akwat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 01:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qiqi</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qi206.wordpress.com/2008/01/03/merdekalah-para-akwat/</guid>
		<description><![CDATA[By             : Biology Lover &#8216;06
Prolog	:
Satu….Biarkanlah angin mengibarkan jilbabmu yang lebar
Namun kau tetap melangkah maju dengan baju kebesaranmu
Dua….Walau ribuan senyum sapa kupu-kupu hadir padamu
Tetaplah melaju menuju istanamu yang indah dan berseri
Tiga….tetapkanlah hatimu hanya pada satu cinta
Yang akan memberikanmu pesona
Empat&#8230;jaganlah engkau tergoda di balik topeng-topeng [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qi206.wordpress.com&blog=1716043&post=25&subd=qi206&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>By             : Biology Lover &#8216;06<br />
Prolog	:<br />
Satu….Biarkanlah angin mengibarkan jilbabmu yang lebar<br />
Namun kau tetap melangkah maju dengan baju kebesaranmu<br />
Dua….Walau ribuan senyum sapa kupu-kupu hadir padamu<br />
Tetaplah melaju menuju istanamu yang indah dan berseri<br />
Tiga….tetapkanlah hatimu hanya pada satu cinta<br />
Yang akan memberikanmu pesona<br />
Empat&#8230;jaganlah engkau tergoda di balik topeng-topeng berbalut ksatria<br />
Tetaplah kau tuntut untuk mencapai merdekamu<br />
Lima…walau seribu janji berwarna merah muda mampir padamu<br />
Tetaplah reguk merah muda dari sang Ilahi tercinta<br />
Merdekalah para akhwat!!!<br />
Merdekalah!!!<br />
Tapi kau harus tetap pada fitrahmu sebagai makhluk penuh cinta</p>
<p>&#8220;Anti dapat sms dari Akh. Badrun gak?&#8221;Tanya seorang akhwat padaku.<br />
&#8220;Sms? Sms apaan?&#8221; tanyaku balik.<br />
&#8220;Ooooh, gak ya! Kok aneh!&#8221; kata akhwat itu lagi.<br />
&#8220;Aneh apanya, Ukh?&#8221; tanyaku lagi penasaran.<br />
&#8220;Gak pa-pa kok&#8221; balas akhwat itu singkat.<br />
Suatu hari akhwat itu datang dan menanyaiku lagi. Pernyataannya sama begitu pula soal yang diajukan. Aku jadi bosan. Tapi, dia kan saudariku, jadi aku harus setia dan meluangkan waktu untuknya. Sekedar mengingatkan atau memberi masukan sedikit. Mungkin itu bisa membuatnya lega.<br />
&#8220;Anti dapat sms gak dari akh. Badrun? Terus dimiscol dia jam 3 pagi?&#8221; kata akhwat itu seolah mencari tahu pada kelopak mataku yang bulat dan besar.<br />
&#8220;Gak&#8221;jawabku singkat.<br />
&#8220;Kok, cuman ane yang disms sih?&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Emang smsnya apaan?&#8221; tanyaku mencoba mencari tahu yang ada di benak akhwat itu.<br />
&#8220;Sms nasihat biar rajin berdakwah, sholat malam, tetap semangat de-el-el&#8221; jelasnya.<br />
&#8220;Oooooh, cuman itu. Emang gak boleh ya?&#8221; tanyaku balik pada akhwat itu.<br />
&#8220;Ya, itu namanya gak syar&#8217;i. Masak ikhwan sms akhwat, miscol akhwat jam 3 pagi. Itu kan namanya mengotori hati&#8221; jelasnya dan membuat aku bingguing.<br />
&#8220;Mengotori hati?Maksudnya?&#8221; kataku tak mengerti.<br />
Aku masih memperhatikan sahabatku itu dengan aneh. Akhwat, hari gini gitu lho! Anti masih tidur saja dalam mimpi panjang. Gimana bisa merdeka? Indonesia lho, gak akan merdeka tanpa adanya proklamasi dan tindakan lebih lanjut untuk memperoleh kemenangan. Wake, up, Ukh!, batinku jengkel.<br />
&#8220;Badrun, tuh teman ane yang emang super duper gaul, Ukh. Jadi anti nyantai aja! Oke!&#8221; nasihatku pendek dan segera menuju tempatku bekerja. Laporanku yang menumpuk sudah menanti untuk segera aku rampungkan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qi206.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qi206.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qi206.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qi206.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qi206.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qi206.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qi206.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qi206.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qi206.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qi206.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qi206.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qi206.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qi206.wordpress.com&blog=1716043&post=25&subd=qi206&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qi206.wordpress.com/2008/01/03/merdekalah-para-akwat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/14300a0bde586d862b44251715153ee9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Qiqi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>