RIZQI FAJRIANA BLOG’S

Angka Sembilan

Posted on: 6 Oktober, 2007

”Oh my god”, gerutuanku kecil. Bibirku monyong beberapa senti. Pacaran???, kakak “berduel” denganku hanya untuk itu. “Oh, tidak”, hatiku membatin.
Kalau soal yang satu ini, aku angkat tangan. Malas. Bikin puyeng. Aku lebih suka dengan statusku sekarang. Jomblo. Tapi, aku jomblo yang bahagia, sangat-sangat bahagia sebab aku punya cinta yang lebih indah, tentunya lebih berwarna bukan sekedar satu warna merah muda tapi jutaan warna.
“ Flor, entar kakak kenalin cowok baru kakak. Ganteng”, katanya sembari mencomot gorengan pisang yang hangat.
“ Ugh, paling-paling kayak yang kemarin-kemarin itu”, balasku bersungut-sungut.
“Aneh”, tambahku singkat. Kakakku melotot, matanya yang bulat hampir keluar. Ugh, takut.
“ Jangan salah yang ini beda”, tukasnya seraya meneruskan suapan gorengan pisangnya yang berada di tangan.
“ kalo kamu dah dapet belum?”, tanyanya tiba-tiba dengan menikmati kunyahan-kunyahan gorengan pisang yang berada di mulutnya.
“ Ingat, perjanjian kita dulu”, tambahnya mengingatkan.
Ups, perjanjian itu. Pacaran. Ih, bukan gue banget. Seorang Mar’atus soliha kayak aku pacaran, Apa kata dunia nantinya, belum lagi teman-teman sejawatku. Dan pastinya aku bakal dapat guyuran segar kata-kata dari mereka. Dari teman-temanku satu tingkat bahkan seniorku, ustadza-ustadza dan lagi cowok-cowok berjenggot meski jenggotnya hanya beberapa helai mengantung di dagu-dagu mereka.
“ Pasti kamu kalah ma kakak ”, katanya seraya mencomot gorengan pisang lagi.
“ Dan………..”, katanya menggantung.
“ Dan pasti kamu kalah. Kakak yakin”, jawabnya sendiri dengan wajah yang berseri-seri.
Aku tak peduli. Aku mengambil novel dari ranselku, novel ayat-ayat cinta. Novelnya bagus, ceritanya tentang pemuda tampan ditaksir lima gadis yang rupawan. Gadis-gadis itu terdiri dari beberapa Negara dan ada juga yang beda agama dengan Fahri, pemeran utama pria di novel itu.
” Kalo kamu dapet cowok, pasti nilainya 6 gitu deh”, tambahnya. Aku cuwek.
” Flor, kamu gak dengerin kakak ya?”, katanya sembari menarik novel itu dengan paksa.
“ Emang enak dicuekin”, jawabku sekenanya.
Aku tarik kembali novel itu, aku baru membacanya beberapa lembar. Banyak dan tebal. Dan novel itu harus aku kembalikan pada sobat kentalku. Dini namanya, gadis berjilbab gede yang menuntunku ke jalan cahaya.
“ Entar sore dia dateng lho!”, katanya lagi.
Aku masih asyik memakan kata-kata di lembaran novel itu. Ceritanya bagus, setingnya pun aku suka. Negara Mesir. Mesir githu lho! Belum lagi kata teman-teman ceritanya itu beda, beda dari novel-novel islami yang biasa aku pinjam dari teman-teman.
“eh, tahu enggak kalo cowok kakak yang baru ini banyak yang ngejar-ngejar lho. Udah ganteng, pinter, kaya lagi. Siapa yang gak mau coba?”, katanya bangga.
Bacaanku kabur, hilang entah kemana. Gara-gara perjanjian sial itu. Ups, salah ngomong. Astagfirullah, gumamku pelan.
“ Eh, kok kamu benggong sih, Dik?”, tanya kakaku yang rupawan. Wajahnya bulat telur, hidungnya mancung, dan kulitnya seputih susu. Wajah kakaku ini memang tidak beda jauh dariku tapi urusan pergaulan nya, dia jagonya maklumlah anak komunikasi di salah satu perguruan ternama di Indonesia. Lain denganku untuk hal macam itu, males.
“Enggak benggong kok”, kataku membela.
“ Gak benggong tapi ngelamun”, katanya seraya menatap bola mataku yang bulat, berusaha menilisik di dalam biji mataku yang jernih.
“ Pasti kamu lagi mikirin, gimana kalo kamu kalah dari kakak. Tenang aja deh, entar kakak kenalin teman-teman kakak yang sesuai seleramu deh”, katanya berapi-api .
“ Seleraku!, maksudnya?”, tanyaku penasaran,
“ Iya, sesuai seleramu itu”, jawabnya sok tahu.
Tapi aku masih tak mengerti yang aku tahu kalo hubungan antara selera itu makanan, lalu selera yang ini apa. Sudut hatiku bicara.
“ Yang itu pinter ngaji, jenggotan kayak kambing, suka dengerin ceramahnya AA’ Gym, ustad Jefry atau ustad-ustad yang lain deh”, jelasnya panjang lebar seraya meletakkan gorengan pisang yang sudah digigitnya di atas piring cantik.
“ Ih, kakak jorok”, kataku sembari melihat tingkahnya yang konyol itu.
“ Bener kan kata kakak”, katanya yakin.
Aku yang ditanya malah diam seribu bahasa. Memang aku lebih tertarik dengan cowok seperti itu. Pendiam, pintar, pengetahuannya seabrek dari ilmu agama Ok, akademis keren apalagi politiknya. Belum lagi sikapnya yang santun. Semenjak aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri tepatnya Brawijaya aku mulai suka dengan cowok-cowok macam gituan. Wajahnya bersih, bersinar seperti diterangi lampu yang berdaya enam puluh watt githu.
“ Oi, ngelamun lagi. Awas kesambet!”, katanya membuyarkan lamunanku tentang pemuda ideal di mataku.
“ Gimana?”, tawarnya lagi.
“ Apanya?”, balasku pura-pura tak mengerti.
“ Itu temen-temen kakak yang mirip kam….”, katanya hati-hati.
“ Maksud Kakak mirip embek”, lanjutnya lagi dengan meniru embikan kambing kemudian terkekeh.

***************************************
Sore hari, bunga-bunga di depan rumahku menunggu untuk diguyur air segar dari gayung merah muda milikku, bunga-bunga itu selalu rindu segarnya air yang aku tawarkan. Tapi, ketika gerimis menetesi mereka satu-satu sepertinya bunga-bunga itu tak lagi peduli akan kesegaran air yang akan aku cipratkan pada mereka. Mendung tak datang sore ini, itu berarti langit tak menggirimkan kristal-kristal bening dan segar itu. Dan aku yakin bunga-bunga itu dahaga sebab tanpa bening bunga-bunga itu tak dapat berfotosintesa meski di langit mentari selalu setia memberi energi pada bunga-bunga itu setiap harinya sesuai waktu peredaran siang dan malam.
Segera ku tenteng ember dan gayung serupa warna di tangan kananku, air yang aku bawa begitu jernih dan bening. Aku guyuri “sahabatku” itu dengan air yang berada di dalam gayung merah muda, sepertinya bunga-bunga itu menikmati kesegaran airnya, merembes melewati celah-celah tanah menyusupi akar dan jaringan floem di batangnya akan membagi-baginya ke seluruh tubuh bunga-bunga itu. Dan tak lupa kelopak-kelopak bunga itu kusirami agar lebih berseri, dedaunan hijau itupun mendapatkan tetesan dari kelopak di atasnya. Ketika berlebih kristal bening itu akan turun setitik demi setitik seperti gerimis di langit ketika mendung bergelayut.
Ketika angin menerpa kelopak-kelopak yang menyala itu, mereka seakan tunduk mengoyang-goyangkan tubuhnya yang beraneka, ada hijau di daunnya, coklat pada tangkai dan tentunya warna-warni seperti merah muda, merah, oranye dan kuning yang mempercantik kelopakknya itu setuju dengan angin yang menggirimkannya semilir dari langit. Dan ketika itu, aku selalu berpikir kalau bunga-bungaku itu sedang tunduk pada pencipta-Nya dan pemberi harum dari tubuh milik bunga-bunga di pekarangan depan rumahku. Tapi, itu semua di atas nalar manusia, tidak dapat dikira-kira atau ditebak yang jelas semua yang berada di jagat raya selalu setia dan tunduk pada empunya. Allah yang Maha Kuasa. Pemilik semesta. Rabbul Alamin.
Bunga-bunga di pekarangan rumahku beraneka jenisnya, ada anggrek bulan yang mengantung di pot coklat yang terbuat dari pembakaran batubata, warnanya seperti terong. Ungu tua, tapi ada putih yang juga mempercantik anggrek itu. Ada juga si Raflesi Arnoldi yang akrab dengan warna salah satu bendera bangsaku, putih yang berarti suci. Bunga ini selalu setia menemani bantal, guling serta kasur empukku tiap malamnya sebab aku begitu menyukai harumnya yang dapat digunakan sebagai aroma terapi penambah hormon Oxytosin agar aku lebih bahagia. Begitu juga ada simbol cinta yang banyak digunakan manusia untuk mengungkapkan rasa yang berada di hatinya, si mawar yang beraneka. Ada mawar putih yang biasa dipetik ayah selepas pulang kerja untuk diberikan pada ibu sebagai simbol bahwa ayah begitu setia dan tak akan memberi noda pada pernikahannya, pada wanita yang rahimnya telah setia padaku serta kakakku untuk dititipi oleh Allah selama kurang lebih 9 bulan dalam perutnya. Dan juga ada mawar merah yang biasanya diberi pada pemuja-pemuja rahasia kakakku sebagai ungkapan cinta agar mereka sudi menjadi pria istimewa di mata kakakku yang cantik seperti putri dalam negeri dongeng.
” Mawar siapa tuh, Kak?”, tanyaku penuh selidik pada suatu hari sehabis melepas kerinduanku pada bunga-bunga di pekarangan rumah.
“ Biasa secret of mayor”, jawabnya pendek seraya menciumi wangi yang ditawarkan mawar merah itu. Kemudian membaca lembaran putih yang berada di sela-sela plastik yang membungkus rangkaian mawar merah itu.
” From your fans”, katanya seraya membolik-balik lembaran putih itu dengan kening berkerut. Heran.
“ Ehm”, lanjutnya lagi dengan membesarkan bola matanya yang bulat diiringi senyuman yang segar, sesegar mawar merah yang ada di pangkuan tangannya.
“ Hati-hati lho!”, kataku memperingatkan.
Ada desir yang aku takutkan tiap kali senyum yang meleret seperti bulan sabit itu terhias pada bibir merahnya yang segar. Yang diperingatkan malah asyik dengan wewangi yang dimiliki rangkaian mawar itu. Diciuminya kelopak-kelopak dari mawar itu berkali-kali dari hidungnya yang bergaya arab itu. Aku masih berusaha tersenyum melihat tingkah yang dimiliki kakakku seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru oleh ibunya. Begitu gembira. Mungkin sorak-sorai di hatinya sedang bergemuruh, tabuhan penasaran pun akan mengiringi nyanyian kebahagian hatinya sebab hormon oxytosin itu bertambah lebih banyak di otaknya.
“ Pasti teman kakak yang sejurusan”, katanya seraya melihatku, mengharap kepalaku juga ikut berpikir untuk menggali lubang-lubang otak mencari tahu sebuah kebenaran.
“ Mene ketehe”, jawabku singkat menyudahi pembicaraan.
Malas. Aku tidak suka dengan hal-hal seperti ini. Membuatku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Stop, stop dan stop. Daun telingaku benar-benar bosan untuk hal itu, mungkin gendang telinga ini akan menggemakan ledakan ketidaksukaan begitu juga hatiku bergemuruh sebal apalagi alat pikirku itu dipaksa “ bekerja” dengan urusan itu. Gak level.
” Jawab dong, Flor”, katanya membuyarkan lamunanku.
“ Udah deh, Kak. Flora malas”, jawabku seraya melangkah pergi menuju kamarku yang berdinding putih.
“ Flor, tungguin kakak mo ngomong”, pintanya sembari mengekor di belakangku persis kucing yang meminta tuannya seekor ikan untuk mengganjal perutnya yang sedari tadi telah menyita habis energinya.
Aku mengambil Qur’an seraya mengambil kerudung warna putih di tempat gantungan baju di belakang pintu kamar. Memakainya perlahan berusaha tampil cantik di depan kalamullah yang dititipkan pada Rasullullah Muhamad sebagai pemegang risalah, nabi akhir zaman.
“ Audhubillahiminassyaitonirrojim”, kataku kemudian seraya melanjutkan bacaan suci itu.
“ Ugh, emang aku setan”, kata kakak dongkol karena melihatku cuwek dengan rasa penasaran dari fans barunya itu.
Dia ngeloyor pergi dari kamarku yang berukuran 3 kali 4 meter itu. Selamat, bisikku pelan. Aku melanjutkan ngajiku itu sebab baru empat lebar mushaf itu kubaca. Sedari tadi aku sibuk dengan tugas besarku. Biasa anak teknik sepertiku selalu mendapat tugas yang membikin minggu tenang sebelum UASku kacau balau. Tapi, tak apa demi menuntut ilmu aku rela. Toh, Allah selalu meninggikan derajat orang-orang yang berilmu beberapa tinggi dari yang lain. Bacaan al-qur’an itu kuperindah dengan tajwid meskipun baru beberapa ilmu tajwid yang aku ketahui seperti lambang untuk menghentikan bacaan sebelum berganti ayat yaitu mim sedangkan tak wajib berhenti yaitu lam besar yang berarti larangan untuk berhenti, sola paduan dari huruf hijaiyah, shod dan lam yang berarti lebih baik bacaan diterusakan serta qola yang merupakan simbol lebih baik berhenti ketimbang melanjutkan. Masih banyak ilmu tajwid lainnya yang perlu kuketahui seperti mad-mad yang harus dibaca seberapa panjang dan pendek. Aku suka mempelajari itu semua. Bacaan al-qur’anku semakin membaik tiap harinya sebab tak bosan-bosannya aku membaca lembar-lembar mushaf dan aku selalu ingat sepotong hadist yang dikatakan Rasullullah bahwa membaca ayat Qur’an dihitung per huruf hijaiyah. Dan itu berarti dapat menambah amalku sebelum aku tergolek lemas dalam kubur yang gelap serta dapat menggugurkan dosa-dosa yang telah kuperbuat di masa lalu.
**********************************
“ Flor, sini kakak kenalin cowok baru kakak”, kata kakak semata wayangku itu seraya menyeret paksa tangan kananku menuju ruang tamu.
Aku yang baru pulang dari kajian Sabtu di masjid dekat rumah terpaksa mengikutinya. Seorang pria muda, tengah menikmati empuknya sofa berwarna putih dengan motif bunga-bunga di ruang tamu di dalam rumah kami.
“ Nih, kenalin”, pinta kakaku sembari mendekatkanku pada pria muda tadi. Pria muda itu berdiri, wajahnya tampan ditambahi kulitnya yang putih bersih. Badannya tinggi besar mirip Fransisco Totti, idola kakakku yang posternya setia menggantung di dinding kamarnya tiga bulan lalu. Kakakku amat mengandrungi salah satu tim kesebelasan dari Negeri Roma itu. Sebuah klub sepak bola kenamaan di Italia sampai-sampai semua koran, majalah atau yang berbau wajah khas Italia itu numpang, segera kakakku mengguntingnya dan meletakkannya di album foto yang baru dua minggu itu dibelinya dari plasa foto di kampung halaman kami. Album itu berisi berbagai macam pose pemain bola dengan nomor punggung sepuluh.
“ Mickey Sudarsono”, kata pria itu seraya menjulurkan tangan kanannya.
“ Itu cowok kakak”, kata kakakku sembari menarik-narik lengan tanganku.
Aku terdiam sejenak. Binggung. Maksud ini semua apa, dikenalin ama cowok barunya. Mau pamer kalo dia menang taruhan ama aku, adiknya yang gak kalah cantik ini. Ato sekedar bikin aku keder ma pria ganteng yang ada di hadapanku saat ini.
“ Syut, syut,syut”, kata kakakku berulang membuyarkan lamunanku.
“ Ayo kenalan!”, bisik kakakku pelan seraya melotot padaku.
Aku langsung tersadar dari alam pikirku yang entah beranta tengah berkelana. Aku melihat tangan kanan pria itu masih terjulur padaku.
Segera aku melihatnya sekilas.
” Maaf. Siapa namanya tadi, ya Mas”, kataku dengan nada tak berdosa.
“ Ooooh”, kata pria itu seraya melihatku dengan tatapan aneh.
Mungkin dia berpikir kalau cowok sekeren dan setampan dia, dicuekin ama hawa yang dengan wajah tanpa dosa yang lupa akan namanya. Minta maaf lagi. EGP, kataku dalam hati. Emang penting kenalan ma dia. Ih, jijay. Gumamku pelan. Aduh, kacau, pikiranku kacau. Aku kok jadi ngomongin orang dalam hati. Aku istigfar berulang kali meminta ampun dan memohon perlindungan pada-Nya.
” Mickey Sudarsono”, katanya lagi dengan tangan kanan yang setia masih tejulur.
“ Panggil aja Miki”, lanjutnya sembari tersenyum.
Ugh, males. Kenalan ama cowok kayak gitu. Gak level. Bukan kriteria jodoh masa depan. Emang sih cakep tapi, hati gak jamin. Wajah boleh bening kayak air tapi, hati siapa tahu keruh kayak air hujan. Gak ada jaminan masuk surga kalo dapet suami kayak itu. Ih, ngeri. Gayanya selangit kayak selebritis tapi enggak sopan, enggak santun. Tuh, lihat matanya yang sipit melotot terus ngelihatin aku, emang aku monster yang kudu ditakutin. Ih, aku ngeri ama nih cowok, jelalatan ngelihatin aku dari atas sampe bawah. Emang dia sapa, calon suamiku. Calon suami aja gak boleh ngelihat dengan berlebihan kayak githu. Dasar cowok mata keranjang. Aku ngedumel panjang lebar dalam hati. Ketika aku sadar akan makian yang melintas di otakku itu segera aku beristigfar berulang-ulang.
“ Hello”, kata pria tadi dengan tangan digoyang-goyangkan di depan mataku
Aku tersenyum. Senyuman yang kecut dan dipaksa. Lalu menggabungkan jemari-jemari tanganku dan berkata singkat, “ Flora”, sejurus kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang tamu yang cukup besar itu.
” Bentar ya, Say”, kata kakak seraya menjejeri langkahku.
“ Flor, tunggu”, kata kakak dengan wajah agak merah.
Aku berhenti di depan pintu kamarku. Mencoba setenang dan sehalus mungkin menerima cacian kakakku yang semata wayang itu. Mungkin kakakku akan marah sebab aku tak sopan pada tamu istimewanya, tamu yang tadi siang ia ceritakan dengan menggebu-gebu, tamu yang kini berada di ruang hatinya. Aku gak peduli, aku sebel. Sebel. Hatiku bergemuruh marah meski aku coba berlaku sesantun mungkin, tetap saja aku tak bisa.
“ Ya. Ada apa?”, tanyaku dengan bibir berkerut seraya mataku tak henti-hentinya berputar melihat sekeliling.
“ Flor, kamu kok githu sih ma Miki. Kakak gak suka ama sikapmu barusan. Gak sopan.”, kata kakak dengan nada jengkel.
“ What’s wrong?”, tanyaku kemudian dengan mata yang masih bekelana melihat sekeliling tanpa peduli kakakku yang berada di hadapanku kini.
” Iiiiiiiiiiiiih”, kata kakak gemas, kedua tangannya dikepal ke atas kemudian menaruhnya lagi ke bawah ditambahi lagi dengan mulutnya yang dikerutkan.
“ Awas ya!”, ultimatumnya keluar sejurus kemudian dia ngeloyor pergi.
Mataku berawan. Seperti mendung yang bergelayut ketika gerimis akan menetesi bumi. Tetesan-tetesan gerimis kini beralih pada kedua bola mataku, menetesi pipiku yang montok dan putih. Tak hentinya dadaku berguncang layaknya guntur yang menambah derasnya hujan. Aku merasa sesak di sini, di kedua paru-paruku, kanan dan kiri. Aku menangis. Seorang Flora Kolenkima, muslimah tomboy yang jago taekwondo, super jahil dan aktivis paling cekatan kini menangis. Aku lari menghempaskan tubuhku di kasurku yang empuk. Wangi-wangi melati yang sedari tadi aku tebarkan di sprei kasurku yang bergambar mickey mouse. Tangisanku pecah dibantal. Kristal-kristal bening itu berhamburan di pipi, turun ke bawah dan membuat bantal kesayanganku basah karena air mata. Dadaku pun turun naik, sesak menghias dan membuat jantungku pun berdenyut lebih kencang. Aku menahan isak yang sedari tadi bergemuruh membuatku sesengukan berkali-kali tapi tak hentiunya air mata ini muncrat keluar, mengaliri pipiku yang gembul.
“ Aku gak boleh nangis. Gak boleh”, kataku menguatkan hati tapi butiran-butiran bening masih saja bergulir.
“ Flora kuatkan hatimu, tegarkan dirimu meski badai menerpa badanmu tapi satu jangan sampai iman menggerogoti yakinmu”, sebuah untaian kata yang selalu setia menghiasi dinding di kostku.
Kalimat itu selalu aku ingat ketika jalan menuju pelangi itu terhambat dengan meteor-meteor yang menghujani kapal angkasaku. Aku selalau ingin melihat pelangi itu lebih dekat agar aku bisa merasakan wewangian kesturi yang ditawarkan surga. Sebuah kehidupan abadi. Tapi, meteor-meteor itu menghalangiku menuju pelangi yang berwarna-warni. Mereka berusaha menjadi penghalang perjalananku ke luar angkasa. Tapi aku punya bom yang bisa melumatkan mereka, membuat meteor-meteor itupun berhambur dan terpecah berkeping-keping di angkasa. Bom itu ibarat imanku pada-Nya, bom itupun kesabaran yang harus tertanam di hatiku sebab jalan menuju pelangi teramatlah sulit untuk kutapaki. Keindahan warnaya harus dilihat dengan mata yang suci, mata tanpa lirikan kanan dan kiri. Mata yang senantiasa terjaga di sepertiga malam, mata yang selalu hidup untuk melihat dan mencari kebenaran.
**********************************

1 Response to "Angka Sembilan"

ni cerpen belum selesai ya?
ana nggak mau ngasih komen kalau lum selesai…!!! >=(
(padahal ni juga komen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUATLAH DIRIMU BERMANFAAT

KALENDER

Oktober 2007
M S S R K J S
« Sep   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

PENGUNJUNG

  • 80,650 TAMU

KUMPULAN TULISAN

free-dw CARI UANG DI INTERNET website stats ON LINE

Flickr Photos

Puffy

sunset at the sea

Mount Fuji at Dawn

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: