RIZQI FAJRIANA BLOG’S

Perdana Because I Love U

Posted on: 3 Januari, 2008

Ukhti, Izinkan Aku Mengerti
By : Biologi Lover ’06
Prolog :
Saudariku, malaikat takkan mengerti ilmu tanpa bimbingan Allah
Apalagi diriku
Insan doif yang masih membutuhkan jemari lembut tuntunan
Saudariku, kediamanmu membuat ribuan penasaran yang membayangi hatiku
Saudariku, izinkan aku bertanya
Saudariku, izinkan aku mengerti

“Ukhti, yang JAIZ!”, Kata seorang akhwat. Dia sahabatku.
Aku hanya melongo, tidak mengerti. “Apa salahku?”Tanyaku dalam hati disertai kepingan-kepingan rasa penasaran.
“Nti ini, aneh!”, tambahnya singkat
Dan lagi-lagi aku hanya melongo sembari terus bertanya di dalam hati, “Apa salahku?”
Aku mengikuti langkahnya yang cepat, menguntitnya seperti anak kucing yang mengikuti langkah kaki induknya.
“Maksudnya,Ukh?”tanyaku sembari tergopoh menjejeri dia berjalan.
Hanya menoleh, sahabatku itu.
Dan lagi-lagi aku hanya dibuatnya melongo seperti kerbau hanya bisa plonga-plongo
Aku mengambil napas panjang, berusaha melepas kepenatan yang menghiasi hatiku.
“Gimana aku bisa tahu kesalahanku? Aku hanya didiamkan begitu saja. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan???” Tanyaku dalam hati disertai kebingungan yang mendalam.
Kami masih berjalan menuju tempat tujuan, seketariat tempat kami saling berdiskusi, berkumpul, demi kelancaran dakwah ke depan.
Akhirnya sampai juga kami ke tempat tujuan. Aku melirik hpku, jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih 10 menit. Kami telat, ada 2 pasang sepatu yang nangkring disana. “Ikhwan sudah dari tadi datang”, bisikku.
Dengan langkah pelan seperti pencuri, kami memasuki sekret “Assalamualaikum”, sapa sahabatku itu sebagai tanda akhwat sudah datang dan syuro’ agar segera dimulai.
“Waalaikumssalam warahmatullah wabarakatu”, jawab dua suara di seberang beriringan.
Kami duduk sembari melepas lelah.
“Berapa akhwat yang datang, Ukh?” sebuah suara bergema, mungkin dari ikhwan yang berada di balik hijab.
“Dua”,jawab sahabatku itu dengan singkat dan tegas.
“Ikhwannya?” Tanya sahabatku pada ikhwan di seberang
“Sama, ukh. Kalo gitu, syuronya segera dimulai saja” Tawar ikhwan diseberang.
“Ya, akh. Keburu masuk kuliah nih!”, kataku polos.
“Makanya, kalo’ datang yang ontime, ukh!”, balas salah satu ikhwan di seberang.
Ups, aku salah ngomong lagi. Sahabatku itu melirik dengan pandangan yang tidak mengenakan. Ngeri.
“Afwan” sergahku cepat.
“Ya sudah, kita mulai saja syuro’ bulanan kita” Kata ikhwan di seberang lagi.
Pasti itu suara kadept, pikirku.
Syuro’ pun dimulai. Ayat-ayat kauliyah Rabbul Alamin terdengar merdu menyapu kegelisahan di hatiku, mebuat kami terdiam pada khidmat menuju alam kekhusyukan dalam pikiran-pikiran kami.
“Alhamdullilah, semoga dengan bacaan taujih Rabbani mampu menghapus kegelisahan yang ada di hati kita. Alangkah lebih baik lagi kalo’ ada taujih sebagai koreksi kita untuk menuju insan yang lebih baik. Tafadol, dari akhwat menyampaikan taujih atau sepatah dua patah nasihat” Kata ikhwan lagi.
“Ikhwan saja”jawab sahabatku dengan singkat.
“Baiklah” sambung ikhwan.
Kata-kata taujih menggelinding dengan cepat dari bibir seorang ikhwan. Taujihnya menusuk hati. Tentang waktu, Ya allah, hamba merasa bersalah atas keteledoran hamba”, lagi-lagi aku berbisik dalam hati. “Ikhwan ini, nyindir aku ya!. Dasar!!! Ah, gak pa-palah, emang aku telat kok”, bisikku lagi mencoba berkhusnudhon.
“Semoga dengan taujih yang dibawakan Akh. Anshor bermanfaat dan mampu menjadi koreksian bagi kita. Ya, sudah kita mulai syuro kita sampai jam 7 lebih 10” kata kadept.
“Afwan, ane izin sampai jam 7 kurang lima karena ane mau presentasi jam 7” kata ikhwan lagi.
“Ya, gak papa, akhi. Ntum, boleh meninggalkan syuro kita jam itu” jawab Kadept bijak.
“Agenda kita bla-bla-bla” kata kadept sambil menuliskannya di papan putih
Dua agenda yang terpampang, yang pertama evaluasi kader dan proker kemudian koreksian untuk itu.
Aku mengambil napas panjang, “aku kan belum melaksanakan amanahku untuk membagi-bagikan selebaran amal yaumi. Gara-gara laporan nih yang selalu kejar tayang jadinya aku gak sempat. Ugh, kenapa aku mesti masuk jurusan ini sih. Jadi nyesel” Aku ngedumel dalam hati.
“Ya, ada masukan?”tawar kadept kepada semua anggota syuro yang datang.
“Proker kita belum berjal;an optimal, seperti proker bagi-bagi sms taujih kepada anggota, padahal sms taujih itu sangat penting sebagai periayahan kader”Sahabatku angkat bicara.
Aku melihatnya seperti kakak kelasku saja. Dewasa, berwibawa, dan yang utama akhwat banget. Gak seperti aku yang masih kekanak-kanakan, terkadang cupu, dan masih penuh berbenah untuk menjadi akhwat seperti dia.
“Diprioritaskan saja proker pada bulan ini yang harus diselesaikan apa sebab sebantar lagi masa jabatan kita akan berakhir”tambah sahabatku lagi.
Aku hanya mangut-mangut melihatnya.
“Masuk ya, proker kita yang bagi-bagi sms taujih itu terkadang enggak terlaksana dalam tempo satu bulan. Padahal, sms taujih itu semestinya sepekan sekali. Nah, ane ingin nanya, kok bisa githu? Apakah PJnya enggak tahu ato kendalanya apa?” suaraku bergetar. Grogi. Secara, gitu aku jarang banget ngomong formal. Aku kan anaknya selalu nyerocos dalam keadaan informal. Nah, yang ini??? Bukan GUE BANGET.
“Afwan, itu PJ sudah terbentuk Ukhti Nisa yang bertanggung jawab. Ukhti Nisanya datang?”kadept berbicara.
Oooh, si Nisa toh. Kemana ya tuh anak kok jarang nongol, aku melaju ke alam pikirku sendiri.
“Ehm, kalo gitu dibuat perwakilan aja sebagai pengganti ato gimanalah lebih baiknya?” tawarku.
Sebuah suara muncul, “Ide bagus tuh, gimana kalo nti aja, Ukh”
Aku mengangga. Yang bener aja, AKU!!!
“Afwan, sebaiknya orang yang lebih tepat. Maybe ntm aja kek” jawabku dengan nada malas.
“Ane? Waduh….” jawab ikhwan. Aku menduga itu suara Akh. Anshor.
Tuh ikhwan emang bikin aku kesel. Ngerepotin!!!
“Tuh kan, ntm juga keberatan kan?”tanyaku balik.
Skak mat. Aku menang.
“Sebaiknya segera dibentuk perwakilan atau segera digantikan. Ane usul Ukhti Chika saja karena beliau mampu dalam hal ini. Insya Allah. Benar begitu ukh?”timpal sahabatku.
Dan seperti biasa, aku hanya dibuatnya melongo. Sekujur tubuhku lemas, energi yang barusan aku kumpulkan terkuras untuk hal ini.
“Okey, PJnya diwakilkan saja karena ane dengar ukhti Nisa punya amanah baru dari keluarganya untuk menyelesaikan skripsi. PJ, ukhti Chika.”
Tanpa ba-bi-bu, namaku sudah tertulis di papan putih itu. Oh my god. Aku serasa di dakwah di meja hijau, dank adept sebagai hakim, yang pastinya Akh. Anshor sebagai penuntut pasti akan berbangga hati. Satu kosong, pikirku.
“eh…..”aku mencoba bersuara tapi sahabatku itu meletakkan ibu jari di bibirnya sebagai tanda diam.
Akhirnya dengan terpaksa aku menerimanya. Gak papalah hitung-hitung amal, pikirku.
“Ada masukan lain?” suara kadept bergema lagi.
“Cathar anggota, gimana kabarnya? Ane binggung itu sistemnya gimana?”Akh Anshor angkat bicara.
“Itu kan prosedurnya, anggota kita mengirimkan curhatan mereka ke email, Terus kita akan membaca dan memberi jawaban via email ke penggirim. Ato melalui surat yang dikirimkan di kotak surat departemen kita.”jelasku panjang lebar.
Tuh, kan ikhwan itu selalu aja nyari alas an biar aku bete. Sebel, pikirku lagi.
“Tapi,ane belum mengerti mengenai konsepannya” ulangnya lagi.
Tuh, kan penyakitnya kumat. Ngerepotin aku terus. Gak bisa ngelihat aku senang. Proker itu kan usulanku.
“Gini lho, akh. Ntm lihat di email, ntar kalo ada kader yang ngirim dibaca, ntar departemen kita ngasih masukan buat nanganin problemnya itu lho!. Dah ngerti kan?” jelasku lagi sambil melepas kesal yang sedari tadi nmepel di otakku.
“Oh, gitu tho. Ane ngerti!”jawabnya.
Syuro pun berlanjut dengan lancar. Proker-proker yang belum terlaksana dibahas secara mendetail diseretai solusi-solusinya. Jarum jam pendek sudah menunjukkan angka 7 dan jarm panjangnya angka 3, ini berarti syuro aklan segera usai. Akh. Anhor, 15 menit lalu sudah meningglkan tempat. Proker yang diamahkan pada beliau sudah berjalan dengan baik hanya satu proker yang belum “Cathar Kader Itu”, padahal itu kan proker usulanku. Syuro’ pun disudahoi dengan basmalah. Aku dan sahabatku pun pergi meninggalkan tempat.
“Ukh, ane belum mengerti maksud nti yang di jalan tadi?” tanyaku tiba-tiba.
Dan lagi-lagi sahabatku hanya menoleh dan diam.
Sebuah wajah nongol di jalan. Nampak seorang pria berjalan. Kami berpapasan. Wajahnya gak asing sering aku lihat. Asisten praktikumku. Aku tersenyum sembari mengucap salam padanya mencoba beramah tamah.
“Assalamualaikum”, kataku menyapa
“waalaikumsalam”, balasnya sembari tersenyum lebar.
“Tuh kan penyakit anti kumat lagi”
Tiba-tiba sahabatku itu angkat bicara sembari wajahnya ditekuk berlipat-lipat.
Dan sekarang, aku mengerti karena ini. Aku harus JAIZ.
Ya Allah, apa salahnya menyapa dan mencoba akrab kepada orang lain. Bukankah bertegur sapa dianjurkan dalam Islam. Lagi pula aku tidak melakukan hal macam-macam kok. Cuman ngasih salam dan tersenyum. Senyum kan sodakoh, pikirku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUATLAH DIRIMU BERMANFAAT

KALENDER

Januari 2008
M S S R K J S
« Des   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

PENGUNJUNG

  • 80,650 TAMU

KUMPULAN TULISAN

free-dw CARI UANG DI INTERNET website stats ON LINE

Flickr Photos

Puffy

sunset at the sea

Mount Fuji at Dawn

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: