RIZQI FAJRIANA BLOG’S

REQUEST TANPA GOSONG

Posted on: 22 Juni, 2008

Hari ini giliranku masak. Ehm…masak apaan ya? Ugh, aku paling sebel banget kalo dapat giliran masak. Bukan masalahnya aku ogah ke dapur tapi aku takut kalo’ masakanku jadi racun seantero as-sholiha, kontrakanku tercinta. Lagi-lagi aku memutar kepala tiap hari Ahad dan Senin. Siang sampai malam aku gak bisa tidur dengan tenang.

Kalau aku ngelihat masakan di meja dekat televisi yang jadul di kontrakanku itu, hatiku gak pernah berhenti berbisik, “kok pinter sih akhwat ini masaknya? Waduh gimana caranya buat bergedel kentang yang enak kayak gini ya? Nasi goreng terinya gurih banget, porsi bumbunya seberapa banyak? Sotonya enak, pake bumbu apa? Dan bla-bla kata-kata pujian lainnya yang selalu bergemuruh menemani tidur malamku.

Pagi harinya setiap Senin pikiranku pun berubah, “Mendingan aku belikan masakan aja”, kataku pada seorang akhwat. “Ojo dek, masak aja!” katanya seraya mengambil beberapa centong nasi dari Rice Cooker. “Aku ada laporan, mbak. Sorenya aja deh aku masakin,ya?” kilahku kemudian. “Kok gak minta ganti, dek.” Kata akhwat senior yang lain. “Ntar ngerepotin lagi.” Kataku menghindar. “Kalo’ gak bisa masak hari ini sebaiknya adik kemarin minta tolong ke akhwat lain.” Nasehat akhwat lainnya lagi.

Waduh, kenapa akhwat-akhwat ngumpul disini sih. Ugh, pasti aku bakalan kena wejangan bla-bla-bla. Siap-siap aja deh aku kena serangan yang bertubi-tubi. “dek rizqi, kenapa gak bisa masak buat ntar siang?” tanya akhwat yang berpatner denganku hari Senin itu.

Aku hanya mesam-mesem, malu ngomongnya. Bukan karena laporan yang tak hentinya kejar tayang dalam harian hidupku, bukan pula karena tugas yang menumpuk untuk segera aku kerjakan, bukan pula karena setrikaan bajuku yang menggunung, dan bukan karena syuro-syuro pagi hari. Bukan itu semua. Karena satu, ketakutanku sendiri. Ketakutanku karena menyakiti. Ketakutanku karena mendholimi. Ketakutanku akan kemubadziran, ya karena ketakutan-ketakutanku itulah yang membuat alat pikirku ogah memikirkannya, “Harus dimasakin apa ya akhwat-akhwat ini.” Semua karena ketakutanku yang membuat kakiku enggan berbelanja. Enggan melihat resep masakan yang telah aku tuliskan di diaryku. Enggan bertanya pake bumbu apa kalo’ masak ini-itu. Enggan berkomentar saat ada akhwat yang masakannya ngasal.

“sekarang adek mau ngapain? Ngerjakan laporan?” tanya akhwat senior lagi. “Gak seh, tapi aku mau belajar mbak” alasanku lagi. Entah berapa alasan yang aku buat yang aku ungkapkan, yang aku rangkai sedemikian rupa untuk menghindari ini semua. Ya Allah sampai kapan aku akan lari pada masalahku sendiri. Sampai kapan. Aku hanya bisa menyimpan rasa maluku padaNya, menitipkan sebait impian juga padaNya, berkeluh kesah hanya denganNya, merenungi kesalahanku juga denganNya.

Aku mengalihkan pembicaraan pada hal lainnya, “Kapan coblosan bupati ya, mbak?” tanyaku pada ahwat dalam majelis tanpa pembuka dan penutup. “Sekitar bulan juli kalo gak salah.” jawab akhwat pendek. Tiba-tiba akhwat yang baru saja berkumpul dalam majelis kontrakan nyeletuk, “Ehm..enak ya masakannya mbak ini. Ntar siang sapa yang masak ya? Tanyanya kemudian. Aku menelan ludah yang menyangkut di tenggorokan, tertunduk malu. Rasanya aku berada dalam dunia yang tak mampu ku jamah, tak mampu aku dekati lorong pintunya untuk menikmati hari ini. Ya Allah, help me! Batinku menjerit. “Dek rizqi yang masak.” Jawab akhwat. “Riz, aku request tanpa sop, gak tahu dan tempe lagi. Pokonya terserah yang penting bukan masakan yang tadi aku sebutin ya” Pinta akhwat sejawat. Yang benar aja, sis, please deh aku emoh masak hari ini. Cukup hari ini aja ya. Please…Besok-besok aku coba resepnya yang kemarin aku tulis, bisikku lagi. “Dek, kalo’ mbak apa aja deh yang penting gak pake gosong ya?” request seorang akhwat senior. Aku mesam-mesem tak terhitung berapa kali senyumanku kulempar ke udara. Entah senyuman yang ke berapa yang kugunakan sebagai tameng rasa maluku. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal seraya pergi dari majelis itu.

Sepekan yang lalu aku memasak tahu telur dengan sayur sop. Bisa dipastikan tahu telur yang kusajikan tak lepas dari warna coklat kehitaman yang berada di daerah permukaannya. Padahal nyala api kompornya kecil sekali dan tidak aku tinggal kemanapun. Dengan penuh penyesalan aku menyajikannya sembari menitipkan pesan secara langsung dan tertulis di atas secarik kertas, “Akhwati Fillah, afwan lauknya warnanya jelek. Tapi, insya Allah enak kok. Jazakumullah khoiron katsiron. Miss U all rizqi.”

Setelah itu aku berangkat ke kampus biasalah di Biologi selalu saja masuk jam setengah delapan dan balik ke kosan jam sebelas siang kemudian kembali lagi jam satu hingga pulang ke kosan lagi sekitar jam tujuh malam. Dan kudapati lauk yang aku sajikan tersisa di piring begitu juga sayur di panci. Bahkan tidak terjamah sopnya. Aku hanya menekuri apa yang kurang dari masakanku selain warna yang berlainan itu, sopnya enak kok. Tapi kok gak habis ya. Sedihnya diriku seraya membuang sayuran yang tersisa itu ke dalam keranjang sampah warna biru kemudian mencuci pancinya. “Apanya yang kurang ya?” Aku mengotak-atik otakku mencoba mencari syaraf yang terhubung pada hatiku agar menguatkan batinku. “Alaaaah, gak popo wes, maybe akhwat diet semua.” Selalu saja itu kata-kata yang kudapati untuk melegakan hatiku. Tak adakah alasan lain untuk menolak sajianku??? Aku mengambil napas panjang menghembuskannya berulang-ulang. CO2nya merilekskan alat pernapasanku segera melegakan rongga dadaku hingga alat pikirku dengan leluasa merasakan kesegarannya.

Lama aku berpikir akhirnya kuputuskan untuk membeli sayuran juga sebagai menu siangnya dan lauknya aku buatkan sendiri. Dadar telur sangat pas sebagai pendamping sayurnya yang dominan manis. Bisa kutaksir dadar telurku juga gak akan lepas dari warna hitam yang menyertainya. Lagi-lagi dugaanku tepat. “Hello rizqi, masaklah dengan rasa cinta. Ojo ngasal.” Bisik hatiku lagi. Aku memajukan bibir beberapa cente sembari mengomel sendiri, “Requestnya gagal lagi. Gosong lagi-gosong lagi. Capek deh!!!” aku ngedumel di dapur. Kebisuan dinding-dindingnya sebagai saksi, kompor gasnya juga seraya perabotan dapur disana seolah menjadi teman setia yang tak pernah lelah mendengarkan ocehanku.

“He..he…he…akhwat afwan lagi ngeeh.” Kataku mengumumkan seraya membuka daun pintu bersegera pergi meuju kampus. Dalam perjalanan tepatnya perempatan jalan kerto sentono jalan yang biasa aku lewati. Ada 2 gerobak yang berjejer di samping kiri TK. Ada penjual buah yang masih muda dan penjual gado-gado yang sudah berumur yaitu seorang bapak tua yang sudah beuban. Pernah aku membeli bersama teman sebungkus gado-gado. Rasanya enak pas di lidah. Dalam hati aku berkata, “Mosok aku yang cewek kalah ama cowok. Cewek emang lemah tapi gak harus kalah dong dalam memasak.” Aku melihat bapak tua itu melayani pelanggan. Ramah sekali. Dan terakhir aku melempar senyum pada langiit menyampaikannya pada kekasihku yang paling abadi di atas sana. Arsy yang indah dan bertahta. Aku menemukan syaraf yang menghasilkan endorpin, hormon suka citaku bahwa esok hari aku pasti bisa memenuhi request akhwat itu. Pasti.

Salam Cinta Dariku

Miss U All, ukhti

Griya as-sholiha 20 Juni 2008

1 Response to "REQUEST TANPA GOSONG"

Ni spesial buat As-Sholiha Crew yang dah ngajarin aku masak.

Ukhti…love U dah

Muach…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUATLAH DIRIMU BERMANFAAT

KALENDER

Juni 2008
M S S R K J S
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

PENGUNJUNG

  • 80,650 TAMU

KUMPULAN TULISAN

free-dw CARI UANG DI INTERNET website stats ON LINE

Flickr Photos

Puffy

sunset at the sea

Mount Fuji at Dawn

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: