RIZQI FAJRIANA BLOG’S

Detik-detik Jilbab Pertamaku

Posted on: 25 September, 2008

 

“Al, waktunya kamu harus pake’ jilbab!” ultimatum ummi di meja makan.

Aku yang menyuap sesendok nasi terperanjat kaget. Sesendok nasi yang mampir di mulut tak jadi kutelan. Aku menelan ludah. Binggung. Segera tanganku meraih segelas air putih yang ada di samping tangan kananku, meneguknya dengan cepat. Guyuran segarnya membuat pikiranku terasa enteng.

“Jangan sekarang ummi dan abi, Alya belum siap!” bisikku dalam hati.

“Ya Al, contohlah sahabat kau yang sering main kesini itu,” Abi angkat bicara dengan aksen batak yang kental.

Fatimah? Sahabatku yang cantik, pintar, lembut dan yang paling anggun itu. Haaa, gak salah abi ngomong? Masak aku disamakan dengan Fatimah. Ugh…kesel, hatiku tak henti-hentinya berbisik.

“Lho Al, nasinya kok belum juga dimakan? Jangan dilihat saja, nanti dingin! Jadinya gak enak.” kata ummi yang melihatku benggong.

Aku tersenyum.

“Kapan anak ummi yang manis ini memakai jilbab?” tanya ummi lagi.

Pertanyaan yang sama. Haruskah aku memberikan jawaban yang sama seperti setahun yang lalu, “Nanti aja, ummi ama abi, Alya make’ jilbabnya pas ramadhan aja. Sekarang belum siap. Bulan ramadhan ‘kan, moment yang paling tepat untuk memperbanyak pahala!” Kata-kata itu terngiang di batok kepalaku, membuatku semakin tersudut untuk menunaikan janji. Haruskah aku mengingkarinya lagi?

“Al?” sapa abi yang melihatku melamun.

Entahlah, dimanakah seorang Alya sekarang? Di sudut bumi ataukah istana khayalnya sendiri. Aku kembali terbang. Jauh. Menjauhi dimensi nyata. Oh ummi dan abi, jangan paksa putrimu ini, pintaku dalam hati.

“Al?” sapa abi lagi.

Aku ogah membalas. Tak biasanya Alya yang periang termenung dan malas untuk berbicara. “Oh Alya…kembalilah ke alammu!” lamunku lagi.

****************************************************

“Alyaaa, alyaaa….!” teriak ummi.

. “Ya mi, bentar. Alya masih nyisir rambut,” sahutku kemudian.

Kusisir rambut pendekku dengan cepat. Aku paling suka dengan rambut pendekku. Hitam dan halus. Segera aku menuju ke empunya suara yang memangilku. Kamar ummi.

Kamar ummi terbuka lebar, aku langsung masuk. Banyak jilbab berserakan di atas tempat tidur ummi. Berwarna-warni dan coraknya beraneka. Begitupun model jilbabnya. Ada warna putih polos dan bercorak bunga-bunga, ada jilbab terbaru model innova, ada juga jilbab kain sutra yang halus dan lebar serta masih banyak jilbab lainnya yang tak aku tahu. Semuanya tumpah ruah.

“Ada apa, mi?” tanyaku pura-pura.

“Nih lihat, jilbabnya bagus dan cantik-cantik kan?” kata ummi sembari menggelar jilbab persegi warna hitam bercorak.

Aku melongo.

“Pasti wanita yang memakai jilbab ini akan terlihat semakin cantik,” seru ummi.

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Berpura-pura tak mengerti, “Oh ya, mi. Bagus sekali ya jilbabnya. Cocok buat ummi.” Balasku bersemangat.

“Kok ummi, ya Alyalah yang memakai jilbab cantik ini.” jawab ummi lembut seraya menggulurkan jilbab itu ke kepalaku, melipat di kanan dan kiri lalu menyusupkan peniti berwarna emas di dekat leher.

Aku membisu. Rasanya dinding-dinding di kamar ini menuju ke arahku, membuatku tersudut dalam ruang yang tak aku mengerti. Sempit dan sesak. “Aku ingin pergiiiiii,” jeritku dalam hati.

“Wah, Alya cantik sekali dengan jilbab ini. Cocok.” Kata ummi memuji.

Aku tersenyum simpul. Cantik? Apanya? Yang ada menjijikkan dengan jilbab di kepala. Apa kata dunia tentang Alya nanti, si Tomboy bermetamorfosis menjadi wanita. Huaaaaa, kembali batinku berbisik.

“Ada yang kurang, sebentar ummi ambilkan,” tambah ummi lagi kemudian pergi meninggalkanku dengan jilbab yang sudah tertata apik di kepala.

“Ini dia,” seru ummi membuatku takut.

Kulihat ummi menimang-nimang benda mungil berbentuk bunga dengan warna perak yang menyilaukan mata. Apa itu? Jantungku dag-dig-dug tak karuan. Entah apa yang merasuki ummiku sehingga beliau tak mengerti anaknya ini. Hiks..hiks…adakah yang bisa menolongku?

“Sebentar ummi taruh bros mungil ini di sebelah kiri,” kata ummi sambil menjepitkan benda yang ditimangnya tadi di sebelah kiri di bawah telingaku.

“Selesai.” Seru ummi sambil melihatku dengan bangga.

“Sekarang Alya lihat di cermin!” pinta ummi seraya menunujuk meja rias yang duduk manis di pojok kamar.

Aku melangkah dengan takut. Kututup kedua mataku sebelum kulihat wajahku sendiri. Jantungku tak hentinya terpompa dengan cepat, adrenalinku tak hentinya berdenyut, dan alam pikirku tak hentinya memintaku berkelana.

“Ayo lihat!” pinta ummi.

Kudesiskan basmalah sebelum kubuka kedua mataku. Kulihat sesosok tubuh asing yang aku kenali wajah dan postur tubuhnya. Itu aku, Alya. Tapi ada yang berbeda, jilbab yang melekat rapi dan apik di kepala, bros bunga perak yang terhias indah. Aku malu.

“Sekarang, coba Alya tersenyum!” aba-aba ummi seperti seorang guru tk yang meminta anak didiknya untuk mengikutinya.

Aku menarik bibir ke kanan dan ke kiri dengan malas. Hanya sekedar menyenanggkan ummi yang bersusah payah memakaikan jilbab ini.

“Cantiknya anak ummi.” Puji ummi lagi.

Dan aku lagi-lagi hanya tersenyum simpul.

*************************************************

“Ayo Alya, cepat!” komando abi.

“Tunggu, bi. Alya masih make’ jilbab” balasku cepat.

Aku merapikan jilbab warna kuning muda yang senada dengan baju atasan yang aku kenakan. Aku mematut diri di depan cermin. Tampak wajah yang aneh terhias disana.

“Alyaaa….” panggil ummi.

“Ya, mi.” Balasku cepat.

Aku mengambil mukenah lengkap dengan sajadah yang terlipat rapi di atas kasur. Tarawih pertama dengan jilbab. Hari yang spesial sekaligus menakutkan yang akan terlampir dalam agenda harian hidupku. Bukan hanya untuk hari ini tapi untuk selamanya.

“Lama sekalilah kau, Alya berdandannya? Abi dan ummi menunggumu disini hingga capek.” Kata abi bernada setengah jengkel.

“Maaf ummi dan abi, Alya baru saja bisa memakai jilbab. Jadinya lama berdandan.” Kilahku.

“Ya sudahlah. Sekarang kita berangkat ke mesjid. Nanti kita terlambat.”

Iqomat dilantunkan, jamaah pun berbaris memenuhi shof-shof. Seorang imam menyuarkan takbir dengan lantang, “Allahu Akbar.” Seraya meletakkan tangan kanan dan kiri yang terlipat di dada. Makmum mengikuti dengan segera. Lafadzh Al-Quran sebagai bacaan sholat disuarkan dengan merdunya. Semua khusyuk, larut dalam penghambaan.

Segala gerak-gerik imam kuikuti. Empat rakaat sudah tertunaikan ditutup dengan salam dan menoleh ke kanan dan kiri. Sholat isya telah selesai. Aku melihat sekeliling jamaah. Ada ibu-ibu, anak-anak kecil yang berlari-lari kecil, dan remaja-remaja muda yang beaneka, sibuk berkomat-kamit, ada juga yang saling berbincang maupun yang memangang ponselnya. Di sebelahku ada ummi sedang sibuk berdzikir, lalu berdoa seraya mengangkat kedua tangan. Dan berlanjut sholat badiyah. Aku hanya termenung dengan alamku sendiri, memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah memakai jilbab ini.

“Alya, kok tidak berdoa?” tanya ummi lembut.

“Bentar mi, Alya pusing.” Jawabku pendek.

“Alya cantik dan cocok make’ jilbab.” Kata ummi seolah mengerti tentang diriku.

Oh ummi, kau memang ummi yang paling baik sedunia dan mengerti akan putrinya, bisikku.

Seorang pria muda berpeci hitam membacakan pengumuman dan tata tertib sholat tarawih. Pengumuman tersebut berisi jumlah infak yang ada di masjid ini, larangan ramai tatkala sholat dan ceramah, serta wajib menjaga anak-anak kecil yang dibawa agar tidak mengganggu kekhusyukan sholat. yang wajib didengar dan ditaati jamah. Kemudian membacakan nama-nama ustadzh yang akan berceramah dan menjadi imam tarawih.

Ustadzh Abdullah Abdur Rahman, lulusan Al-Azhar University yang terkenal dengan keluasan ilmu dan tafsirnya. Ustadzh favorit ummi dan abi.

Seorang bapak paruh baya tinggi besar dengan surban di kepala berjalan mendekati mimbar, mengucapkan salam dan memberikan wejangan-wejangan kepada para jamaah mengenai hikmah bulan puasa dan apa saja amalan yang dapat memperbanyak pahala di bulan yang suci ini.

Aku melihat ummiku yang sangat antusias dengan pesan yang disampaikan ustadzh tersebut. Begitu pula di sekelilingku yang khusyuk mendengarkan terkecuali aku yang masih saja tenggelam dalam mimpiku.

*************************************************

Aku menatap langit yang terbentang di angkasa, kulihat gumpalan putih yang menghiasi warna birunya. Aku pun berbisik dalam hati, “Ayo Alya, kamu pasti bisa!” segera kulangkahkan kakiku menuju gerbang sekolahku yang bercat hitam-putih. Terpampang dengan jelas sebuah tulisan disana, “SLTP NEGERI 1 Bangil”, tempatku menimba ilmu. Kuangkat wajahku lalu tersenyum, “Aku pasti bisa.”

Aku melangkahkan kaki menuju kelas. Seragam biru-putih panjang melekat di tubuhku. Bismillah, desisku renyah. Kulihat sekerumunan siswa-siswi yang beada di bangkuku. Aku berjalan pelan menuju kesana. Tampaknya teman-teman tak mengenalku.

“Permisi-permisi, mbak Alya mau lewat!” seruku.

Spontan Fatimah, sahabat karibku yang berkaca mata minus itu berteriak, “Alyaaaa….” katanya menggagetkanku.

“Ada murid baru, oi!” teriak Ipung.

“Ajak kenalan donk!” tambahnya lagi.

“Mbak, namanya siapa? Nama saya Ipung”

Spontan koor teman-temanku sekelas, “Huuuuuu……”

Aku beringsut, duduk manis di pojok dekat tembok. Mencoba menyepi dalam keramaian. Tapi tetap saja tidak bisa. Bel berbunyi tanda masuk kelas. Aku mengampil napas panjang, “Fuiiiiugh…..” Menenangkan diriku.

Teman-teman mengambil tempat duduk di kursinya masing-masing. Bu Herwin, guru matematika memasuki kelas. Dan kelaspun dimulai. Kulihat Fatimah, menyobek secarik kertas kemudian menuliskan sesuatu.

Fatimah melipat kertas itu dan menggeserkan perlahan ke arahku. Beberapa detik kemudian kertas itu sudah beralih tangan. Aku membuka lipatannya sejurus kemudian kubaca isinya, “Alhamdulillah, ya. Kamu udah pake’ jilbab. I’m proud U, my be loved friend.” Aku tersenyum haru. Aku menoleh ke kanan sembari tersenyum ke arahnya. Fatimahpun membalas senyumanku. Dan senyuman inilah yang akan menemani langkah-langkahku dengan jilbab di kepalaku. Amin.

 

Malang, 20 september 2008

Tulisan ini aku persembahkan untuk mengenang sahabatku di SLTPN Negeri 1 Bangil yang telah tiada. U are the best my friend, U are always in my heart.

Thanks for you support.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 Response to "Detik-detik Jilbab Pertamaku"

terima kasih sudah diperbolehkan mengisi, blog yang bagus dan menarik.
lihat juga blog-ku
http://muhammadzaidan.wordpress.com/
salam kenal yah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUATLAH DIRIMU BERMANFAAT

KALENDER

September 2008
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

PENGUNJUNG

  • 80,650 TAMU

KUMPULAN TULISAN

free-dw CARI UANG DI INTERNET website stats ON LINE

Flickr Photos

Puffy

sunset at the sea

Mount Fuji at Dawn

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: